Mutiara Khotbah

Setia

Transkrip Pic Quote (Indonesia)

[line]

Yohanes pembaptis lahir dalam satu keluarga yang setia kepada Tuhan. Tetapi sebelum Yohanes pembaptis lahir, keluarga ini sudah lama tidak mempunyai anak. Hal yang dialami oleh Zakharia dan Elisabet ini, sangatlah melukai hati mereka, sebab orang lain mencemooh, memperbincangkan dan menggunjingkan mereka. “Mereka sudah lama menikah, dan lagi keluarga seorang imam, kok bisa tidak mempunyai anak?”

Orang Yahudi memiliki konsep yang sempit, yaitu jika orang menderita pasti disebabkan oleh dosa. Teman-teman Ayub mengatakan bahwa Ayub menderita pasti karena ada dosa yang dilakukan oleh Ayub.

[quote]“Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga. Mereka binasa oleh nafas Allah, dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya.”

– Ayub 4:8-9[/quote]

Hal ini pula yang ditanyakan oleh para murid kepada Tuhan Yesus tentang orang yang lahir buta.

[quote]“Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

– Yohanes 9:1-3[/quote]

Hal inilah yang dialami oleh Zakharia dan Elisabet. Orang lain menerka-nerka, mereka berbisik di belakang, “Coba lihat, ini pasti ada yang berdosa, karena itu mereka sampai sekarang tidak mempunyai anak.

Akhirnya sampailah hari di mana Tuhan memberi kabar gembira kepada Zakharia. Dan akhirnya Elisabet mengucap syukur.

[quote]“Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”

– Lukas 1:24-25[/quote]

Hal yang dapat kita pelajari yaitu setia adalah tanggungjawab kita, berkat Tuhan itu urusan Tuhan.

Sampai kapan kita setia? Sampai selama-lamanya. Tidak ada klaim-klaiman. Mereka tidak mengklaim, “Tuhan, kami sudah sepenuh hati melayani Engkau, kenapa keadaannya seperti ini?” Kesetiaan mereka bukanlah conditional faithfulness, melainkan unconditional faithfulness. Kesetiaan yang tidak bergantung pada kondisi. Zakharia dan Elisabet hidup benar, taat kepada Firman, tetap setia walaupun kesulitan tiba dalam hidup mereka. Kadang jika kesulitan datang, kesetiaan kita digugurkan oleh kesulitan itu. Zakharia dan Elisabet tidaklah demikian. Walaupun kesulitan datang, walaupun mereka tidak mempunyai anak, mereka tetap berjalan dalam kesetiaan. Sekali lagi, jangan Saudara lupa kalimat ini, “Setia adalah tanggungjawab kita, berkat Tuhan itu urusan Tuhan.”

Kalau kita memiliki pergumulan, jangan ribut dengan Tuhan. “Tuhan! Kok begini!?” Jangan Saudara! Urusan kita adalah setia. Zakharia dan Elisabet tetap setia, tetap melayani. Saudara perhatikan, bahkan Tuhan memberi kabar baik itu kepada Zakharia saat ia sedang melayani di dalam bait Allah.

[quote]“Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan… Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimum dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.”

– Luk 1:8, 11-14[/quote]

Malaikat Gabriel berbicara kepada Zakharia saat Zakharia sedang melayani. Bagaimana jika Zakharia putus asa dan tidak mau melayani lagi? Justru dia akan kehilangan berkat Tuhan.

Hal apa yang dapat kita renungkan? Kesetiaan adalah tanggungjawab kita, berkat Tuhan itu urusan Tuhan. Kadang kita lupa, kesetiaan kita bergantung pada kondisi. Jika kondisi baik, kita setia, jika kondisi buruk, kita tidak setia. “Tuhan, sudah sekian lama kami tidak mempunyai anak. Tuhan, sudah sekian lama saya tidak mempunyai teman hidup. Tuhan, bagaimana dengan pekerjaan saya? Tuhan, kok usaha saya sekarang seperti ini?” Janganlah kita ribut dengan Tuhan.

Jika Tuhan tidak memberkati kitapun, kita sudah setia. Sehingga kita dapat tersenyum nanti kepada Tuhan, saat Ia memanggil kita pulang.

You Might Also Like