Truth and Love News

Natal Bersama GRII Kebon Jeruk

Admin

Menjelang akhir tahun 2025, kita memasuki masa Natal dengan berbagai peristiwa yang mengejutkan. Salah satunya, bencana alam yang melanda wilayah Sumatra, dengan dampaknya yang terus kita saksikan melalui pemberitaan media dari hari ke hari. Sepanjang bulan Desember, pergumulan ini pun turut serta hadir dan terdengar lirih dalam doa-doa syafaat yang diperdengarkan dari mimbar gereja kita.

Kenyataan yang memilukan ini seolah bertolak belakang dengan gambaran Natal yang selalu kita sambut dengan meriah dan sukacita. Namun, jika kita menilik lebih jauh, bukankah hal ini mengingatkan kita bahwa kelahiran Kristus sejak awal memang terjadi di tengah dunia yang jauh dari kata ideal? Bukankah sejak awal, kelahiran Kristus membawa kejutan—bukan hanya bagi mereka yang menantikan pengharapan, tetapi juga bagi mereka yang merasa terancam oleh kehadiran-Nya?

“Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?”, demikianlah pertanyaan yang diajukan oleh orang Majus kepada penduduk setempat saat mereka tiba di Yerusalem. Pertanyaan singkat dan sederhana itu tidak hanya membuat orang-orang bingung, yaitu orang-orang yang sedang menjalani kehidupan biasa tanpa kepekaan akan zaman, tetapi pertanyaan itu juga terdengar begitu keras bagi Herodes sebagai ancaman. Kita mengetahui apa yang terjadi kemudian: ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

Kita tahu bahwa kisah yang kelam dan mencekam ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari narasi kelahiran Tuhan Yesus. Kelahiran Tuhan Yesus yang dirayakan sebagai Natal, kini seringkali dinantikan setiap tahun dengan berbagai kemeriahan dan kebisingan, di mana Kristus semakin tersamar, Injil diabaikan, dan Salib tidak lagi ditinggikan. Perayaan Natal, seharusnya menjadi momen yang menarik kita mendekat ke “palungan” untuk menyaksikan peristiwa yang radikal sepanjang sejarah: Allah menjadi manusia. Firman menjadi daging.

Di dalam anugerah dan pemeliharaan Allah, GRII Kebon Jeruk kembali merayakan Natal pada tahun 2025. Kita bersyukur atas kelimpahan Firman Tuhan yang diberitakan— yang tidak hanya membawa kita berhenti di “palungan”, melainkan mengarahkan pandangan kita kepada kemuliaan Kristus melalui teladan hidup, kematian, serta kebangkitan-Nya.

The Threat in the Manger: Why Do We Want This Baby to Die

(Kebaktian Natal Pemuda & Remaja, 29 November 2025 – ditulis oleh Triska Leslinar Zagoto)

Tidak ada seorang pun yang menginginkan hidup di bawah ancaman. Setiap kita mendambakan hidup yang aman, nyaman, dan sedapat mungkin tanpa gangguan. Dunia pun tak lelah mendorong kita untuk mengejar segala sesuatu menurut standarnya— sesuatu yang kita yakini dapat membuat hidup kita penuh dan utuh. Namun, melalui perenungan akan firman Tuhan pada Natal Pemuda & Remaja yang diadakan pada penghujung bulan November yang lalu, Pdt. Joshua Siwalette mengingatkan bahwa kelahiran Kristus tidak berhenti sebagai kabar yang menggembirakan, tetapi juga merupakan sebuah ‘ancaman’ bagi hidup manusia.

Kelahiran Kristus akan menjadi ancaman bagi kita selama kita terus mendambakan gambaran ideal yang ditawarkan oleh dunia. Kehadiran Kristus akan menjadi gangguan selama kita berusaha memegang kendali atas hidup kita. Pengorbanan Kristus tidak akan mengubahkan kita selama kita bersandar pada kehebatan diri sendiri. Keserupaan dengan Kristus akan menjadi mustahil selama kita terus mempertahankan image diri.

Raja Damai dan Pemulihan Keluarga yang Tawar Hati

(Kebaktian Natal Gabungan PA Wanita dan PA Young Couple, 06 Desember 2025 – ditulis oleh Ibu Grace Sudharma)

Satu minggu setelah Natal Pemuda dan Remaja, kita juga menyaksikan komunitas PA Wanita dan PA Young Couple turut merayakan Natal melalui kebaktian bersama. Perayaan ini menjadi ruang untuk memaknai kelahiran Kristus dalam konteks yang lebih dekat dan personal, yaitu keluarga.

Kebaktian Natal ini dilaksanakan pada Sabtu, 6 Desember 2025 di Lt.3 GRII Kebon Jeruk. Dipimpin oleh Pdt. Antonius Un, kebaktian ini dihadiri oleh 271 jemaat yang terdiri atas 245 jemaat dewasa dan 26 anak sekolah minggu yang mengikuti Children Fellowship di Lt.2.  Kebaktian ini diselenggarakan oleh panitia gabungan PA Wanita dan PA Young Couple melalui kerja sama yang baik antara kedua bidang pelayanan. Persiapan acara dilakukan selama kurang lebih tiga minggu melalui pelayanan humas bersama, baik setelah Kebaktian Umum pada hari minggu maupun melalui persekutuan PAW dan PAYC sebagai wujud semangat untuk saling mendukung sehingga semakin banyak orang yang dapat dijangkau untuk menerima kebenaran Firman Tuhan melalui perayaan Natal ini.

Dengan tema “Raja Damai dan Pemulihan Keluarga yang Tawar Hati”, firman Tuhan menuntun jemaat untuk melihat kembali kisah orang Majus yang rela berkorban menempuh perjalanan yang jauh untuk menyembah  Tuhan. Demikian pula setiap keluarga yang datang ke gereja dengan segala penderitaan dan pergumulannya masing-masing.

Mujizat Tuhan sering kali terjadi di tengah banyak perjuangan, yang menuntut harga yang harus dibayar. Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur: harga apa yang sudah kita bayar agar keluarga kita dipulihkan? Jangan berpikir bahwa Tuhan akan memberikan mujizat tanpa adanya perjuangan dari pihak kita, sebab kasih sejati selalu mengandung pengorbanan. Alkitab menyatakan bahwa love suffers long—kesabaran untuk menanggung penderitaan dalam waktu yang panjang demi memenangkan orang-orang yang kita kasihi. Untuk itu, kita dipanggil menjadi pribadi yang bersih hatinya dan bersih hidupnya, karena inilah syarat penting dalam memenangkan keluarga kita. Kita juga perlu menjaga kerendahan hati dan kesopanan, sebab sering kali penderitaan yang berat membuat seseorang menjadi kasar dan pemarah. Dalam situasi apa pun, kita diajak untuk tetap melakukan yang baik dan berlaku setia. Sebab, ketika berhenti melayani di tengah kesulitan, justru kita semakin sulit untuk dipulihkan.

Tuhan Yesus sendiri memberi teladan yang jelas—Ia sering mengundurkan diri untuk berdoa, bahkan setelah mengalami keberhasilan besar. Sering kali, justru di saat kesuksesan besar terjadi, di situlah awal kemunduran rohani. Namun orang yang memiliki kedalaman rohani akan tetap hidup sama, baik ketika kesulitan masih berlangsung maupun ketika pergumulan keluarga telah terlewati. Ia tetap setia berdoa, dan hidup seperti inilah yang berkenan di hadapan Tuhan, sehingga tidak mungkin Tuhan meninggalkannya. Lebih dari itu, tindakan kasih juga dinyatakan melalui ucapan-ucapan kita. Setiap perkataan memiliki kuasa sebagai tindakan nyata: mengucapkan terima kasih adalah tindakan menghargai, memberi peringatan adalah tindakan melindungi, dan bertanya tentang keadaan seseorang adalah tindakan perhatian yang membangkitkan pengharapan.

Kebaktian Natal PAW dan PAYC berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh sukacita. Melalui ibadah dan perenungan Firman Tuhan, jemaat diajak untuk kembali merenungkan karya keselamatan Kristus serta makna Natal dalam konteks pemulihan keluarga Kristen. Suasana ibadah semakin diperdalam melalui persembahan lagu dan musik,“Et Exultavit (Magnificat)” karya klasik Johann Sebastian Bach yang dibawakan oleh Vik. Sely Siwalette, serta persembahan musik “It Came Upon A Midnight Clear” oleh tim Ensemble.

Momen Candle Light Service juga menjadi bagian yang melambangkan terang Kristus yang hadir dan menyinari kehidupan jemaat serta keluarga. Setelah kebaktian, perayaan Natal ini ditutup dengan kebersamaan jemaat.

Bayi di Palungan, Penebus di Kayu Salib

(Natal Sekolah Minggu, 07 Desember 2025 – ditulis oleh Yohanes Bensohur)

Tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan untuk segala kebaikan dan kesetiaan-Nya sehingga GRII Kebon Jeruk dapat mengadakan Kebaktian Natal Sekolah Minggu, pada tanggal 7 Desember 2025 dengan tema “Bayi di Palungan, Penebus di Kayu Salib.”

Pada tahun ini Tuhan mempercayakan GRII Kebon Jeruk untuk melayani anak-anak lebih banyak dari tahun sebelumnya. Bukan karena kekuatan dan kesanggupan kami sebagai panitia, tetapi hanya karena anugerah Allah semata. “Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” Kebaktian Natal Sekolah Minggu diadakan sebanyak dua kali, yaitu Sesi 1 dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB dan Sesi 2 dilaksanakan pada pukul 13.30 WIB. Seluruh kebaktian ini diikuti oleh 690 anak dan 206 pendamping. Selain itu, ada 7 panti asuhan dan 8 sekolah yang diundang untuk dapat ikut serta beribadah bersama-sama. Natal kelas 1-6 dipimpin oleh Pdt. Joshua Siwalette, kelas 1-6 berbahasa Inggris oleh Vik. Carlos Wiyono dan kelas batita-balita oleh Vik. Suryanti Yunita.

Pada Kebaktian Natal kali ini anak-anak diajarkan untuk menyadari bahwa kedatangan Yesus ke dalam dunia dengan tujuan menyelamatkan kita itu menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sanggup menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak ada manusia yang layak untuk diselamatkan karena semua orang, termasuk anak-anak sudah jatuh dalam dosa. Kita semua adalah orang-orang yang jahat. Maka Natal kali ini mau mengajak anak-anak melihat bahwa pemberian terbesar bagi kita bukanlah hadiah atau hidup nyaman, melainkan kelahiran Yesus Kristus yang datang untuk mengampuni dosa kita, menyucikan hati kita dan memberikan kehidupan yang kekal untuk setiap orang yang mau percaya dan mengikuti-Nya.

Mari kita doakan anak-anak yang telah hadir dan mendengarkan berita baik ini, agar mereka boleh percaya kepada Kristus sejak kecil dan mau hidup bagi-Nya. Keselamatan diperoleh bukan dengan berbuat baik melainkan karena Yesus lahir di palungan dan mati di kayu salib. Biarlah anak-anak menyadari betapa berharganya dan besarnya pengorbanan Yesus Kristus bagi mereka. Yesus rela datang ke dalam dunia menggantikan kita. Jubah dosa sudah dilepaskan dari kita dan ditaruh pada salib. Jubah kebenaran sudah dikenakan kepada kita oleh Kristus.

Kiranya arti Natal yang sesungguhnya ini boleh menjadi benih yang ditabur ke dalam hati anak-anak dan para pendamping, berharap Roh Kudus memberikan pertumbuhan serta iman kepada Yesus Kristus dan yang nantinya boleh berbuah dan memuliakan Tuhan.

Menebus Sisa Waktu antara Natal dan Kedatangan Kedua Kristus

(Natal Komunitas Lansia, 19 Desember 2025 – ditulis oleh Ibu Santi Tunggono)

“Lansia”, sebuah kata yang bagi sebagian orang sangat dihindari, meskipun kita semua menyadari bahwa fase ini adalah sesuatu yang tak dapat kita pilih untuk tidak dilalui. Sehari demi sehari terlewati, hingga tanpa terasa Tuhan mengizinkan kita memasuki masa lanjut usia—sementara bagi sebagian orang lainnya, Tuhan tidak memberikan kesempatan yang sama.

Namun, ada pula yang memandang lanjut usia hanyalah sekadar angka—sesuatu yang tidak perlu terlalu dipikirkan, apalagi ditakuti. Di manakah posisi kita?

“Natal” secara harafiah berarti lahir. Namun, pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: sudahkah Yesus sungguh lahir di dalam hati kita? Bagi banyak orang, Natal merupakan momen yang dinantikan—saat keluarga berkumpul, anak dan cucu hadir, makanan istimewa tersaji, rekreasi bersama dinikmati, serta berbagai hadiah diberikan. Semua itu menjadikan Natal identik dengan sukacita lahiriah dan perayaan yang meriah.

Kita bersyukur, pada tahun 2025 ini, GRII Kebon Jeruk juga menyelenggarakan Kebaktian Natal Lansia yang dipimpin oleh Vik. Carlos Wiyono. Perayaan ini tidak dirancang sebagai pesta yang meriah dengan limpahan hadiah, melainkan sebagai ruang perenungan untuk menebus sisa waktu dari Natal hingga kedatangan Kristus yang kedua.

Kita pasti menyadari bahwa “waktu” kita sudah tidak banyak, maka:

  1. Marilah kita menghitung hari-hari kita dengan bijaksana dan menatanya dengan sungguh, sebab pada akhirnya kita akan tiba pada “garis akhir”, yaitu kedatangan Kristus yang kedua sebagai Hakim (Mazmur 90:12).
  2. Perhatikanlah jalan hidup kita dengan pedoman firman Tuhan, yang mengajarkan prinsip “jangan … tetapi …”: Jangan hidup sebagai orang bodoh, tetapi sebagai orang yang mengerti kehendak Tuhan; Jangan mabuk oleh anggur, tetapi hendaklah kita penuh dengan Roh (Efesus 5:15–18).
  3. Bersandarlah sepenuhnya pada kasih karunia-Nya, sebab kasih karunia yang satu menggantikan kasih karunia yang lain (Yohanes 1:16).

Kasih karunia di masa muda digantikan oleh kasih karunia yang lain di masa tua;
kasih karunia di masa puncak kehidupan digantikan oleh kasih karunia yang lain di masa sulit, tertekan, dan putus asa.

Ingatlah bahwa Allah Bapa telah berjanji mengaruniakan segala sesuatu kepada kita
(Roma 8:32), dan Dia tetaplah Allah yang sampai masa putih rambut kita akan menggendong kita (Yesaya 46:4).

Bangkitkanlah pertanyaan-pertanyaan ini di dalam diri kita:

  1. Apakah saya sedang menebus waktu yang Tuhan anugerahkan, atau justru membiarkannya berlalu tanpa makna?
  2. Kelak, ketika Tuhan memandang hidup saya, akankah Ia berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia; masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21)?

Kebaktian Natal Lansia ini ditutup dengan makan dan aktivitas bersama. Kiranya kebaktian Natal Lansia ini membawa sukacita buat kita semua: sukacita karena mengenal Kristus Yesus, sukacita karena merasakan kehangatan atas kelahiran-Nya di tiap relung hati kita, sukacita untuk menebus sisa waktu dalam menantikan kedatangan-Nya yang kedua.

Tuhan Yesus Dilahirkan di Bawah Tiga Hukum

(Natal Umum GRII Kebon Jeruk, 15 Desember 2025 – ditulis oleh Triska Leslinar Zagoto)

Sepanjang perjalanan sejarah gereja, kita tidak akan habis-habisnya dibuat kagum oleh orang-orang yang menyerahkan hidupnya bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya. Salah satunya yaitu William Tyndale. Dipengaruhi oleh pemikiran Martin Luther, ia dengan berani mengkritik praktik gereja pada zamannya dan memperjuangkan agar Firman Tuhan dapat dibaca dan dimengerti oleh umat dalam bahasa mereka sendiri.

Ia dikritik, dipenjarakan, dan akhirnya dieksekusi dengan cara dicekik hingga mati, lalu jenazahnya dibakar. Namun sampai akhir hidupnya, ia tidak pernah menyangkal pengajaran yang diyakininya sebagai kebenaran Firman Tuhan. Dalam doanya sebelum meninggal, ia memohon: “Tuhan, celikkanlah mata raja Inggris.” Beberapa tahun setelah kematiannya, pada tahun 1539, Raja Inggris mengotorisasi penerjemahan dan penyebaran Alkitab dalam bahasa Inggris. Doa Tyndale dijawab, bukan di masa hidupnya, melainkan setelah pelayanan dan penderitaannya selesai.

Kisah William Tyndale menolong kita melihat bahwa hidup yang sungguh-sungguh bagi Tuhan tidak pernah terlepas dari harga yang harus dibayar: hidup yang mengalami penolakan, nyawa yang terancam, dan pelayanan yang tidak dihargai. Namun ketaatan yang mahal ini bukanlah milik para tokoh iman semata. Ketaatan seperti inilah yang terlebih dahulu dijalani oleh Tuhan Yesus sendiri ketika Ia datang ke dalam dunia.

Melalui surat Paulus kepada jemaat di Galatia, Pdt. Antonius Un memimpin kita merenungkan tiga kebenaran penting tentang ketaatan Kristus (Galatia 4:4-5):

1. Tuhan Yesus lahir di bawah hukum waktu

Tuhan Yesus, meskipun adalah Allah yang kekal, memilih masuk ke dalam sejarah dan hidup di bawah hukum waktu (chronos). Ia hidup dalam rentang waktu yang terbatas—lahir, melayani, dan mati pada waktu yang telah ditetapkan. Karena itu Ia berkata, “Selama terang itu ada padamu, percayalah kepada terang itu” (Yoh. 12:35).

Yesus mengajar kita bahwa hidup tidak hanya soal menyadari waktu yang berjalan, tetapi tentang peka terhadap kehendak Allah di dalam waktu itu. Ketika kehendak Allah dikerjakan, waktu biasa (chronos) berubah menjadi waktu anugerah (kairos). Inilah kemenangan Kristus: setiap detik hidup-Nya dipersembahkan bagi kehendak Bapa. Kita pun dipanggil untuk memperhatikan masa kini—orang-orang di sekitar kita, tanggung jawab kita, dan pekerjaan Allah yang sedang berlangsung.

2. Tuhan Yesus lahir di bawah hukum alam

Yesus lahir dari seorang perempuan dan sungguh-sungguh hidup sebagai manusia: Ia tidur, makan, lapar, dan haus. Namun di atas kayu salib, ketika Ia berkata “Aku haus”, kita melihat bahwa ketaatan kepada Firman lebih utama daripada pemenuhan kebutuhan alamiah.

Sepanjang hidup-Nya, Yesus mengalami kekurangan: lahir tanpa tempat, melayani dalam keterbatasan, dan mati dalam penderitaan. Namun Ia taat sampai mati. Ini menegur kita—yang hidup dalam kecukupan—apakah kita sungguh taat, atau justru sibuk dengan kenyamanan. Datang kepada Tuhan, kita tidak membawa kelebihan, melainkan dahaga, sebab Dia adalah sumber air hidup.

3. Tuhan Yesus menjalankan hukum Taurat

Tuhan Yesus menjalankan hukum Taurat bukan hanya secara lahiriah, tetapi secara esensial dan radikal: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia. Dalam pengajaran-Nya (Mat. 5:27–28), Ia menyingkapkan bahwa dosa bukan hanya soal tindakan, tetapi kondisi hati. Seseorang yang tidak mengasihi Allah tidak mungkin sungguh mengasihi sesama.

Kita bersyukur atas rangkaian ibadah Natal yang diadakan oleh setiap komunitas di dalam gereja kita. Kidung-kidung Natal telah selesai dinyanyikan, ornamen-ornamen Natal disimpan kembali, dan suasana perayaan perlahan mereda. Namun, kiranya berita Natal tetap bergema— tentang Kristus yang meninggalkan takhta-Nya di Surga, membatasi diri-Nya dengan mengambil rupa seorang hamba, dan berjalan di antara kita, terus membingkai kehidupan kita setiap hari untuk mencari dan mentaati kehendak Allah, demi kemuliaan Allah!