Truth and Love News

Artikel Retret GRII Kebon Jeruk (23-25 Agustus 2026)

Avatar photo

Ega Adi Surya

Diinterupsi untuk Kembali Menikmati Tuhan

Puji syukur kepada Tuhan karena Retret GRII Kebon Jeruk kembali boleh diadakan pada tahun ini. Bagi gereja yang hidup di tengah kota besar seperti Jakarta, retret adalah kesempatan yang langka. Ritme hidup berjalan begitu cepat. Pekerjaan, keluarga, studi, pelayanan, perjalanan, dan berbagai tanggung jawab lain dengan mudah memenuhi hari-hari kita. Bahkan untuk mengambil waktu sejenak berhenti dan bersekutu dengan Tuhan pun sering kali membutuhkan perjuangan tersendiri.

Karena itu, saya bersyukur Tuhan memberikan kesempatan bagi jemaat untuk mengambil waktu beberapa hari dari kesibukan sehari-hari dan bersama-sama sebagai gereja lokal menikmati Firman Tuhan dan persekutuan dengan saudara seiman. Retret GRII Kebon Jeruk sendiri hanya diadakan sekitar tiga tahun sekali, sehingga kesempatan ini menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Dalam sambutan pembukaan retret, Pendeta Antonius mengingatkan kita akan teladan Tuhan Yesus. Di tengah pelayanan-Nya yang semakin sibuk, Tuhan Yesus mengambil waktu untuk mengundurkan diri ke tempat yang sunyi dan berdoa. Setelah para murid kembali dari pelayanan, Tuhan Yesus juga membawa mereka menyingkir untuk berada bersama-Nya. Ada waktu untuk melayani, tetapi ada juga waktu untuk berhenti, berdoa, bersyukur, mengevaluasi diri, dan kembali dikuatkan sebelum melanjutkan pelayanan.

Saya melihat retret sebagai salah satu cara Tuhan menginterupsi ritme hidup kita. Di tengah segala kesibukan, Roh Kudus mengingatkan bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri. Kita membutuhkan waktu untuk kembali melihat Tuhan, menikmati Firman-Nya, dan membiarkan Dia menata kembali hidup kita.

Retret juga bukan hanya kesempatan untuk menerima Firman secara pribadi. Kita datang sebagai satu gereja. Karena itu, retret menjadi kesempatan untuk belajar mengerjakan Firman kepada sesama orang percaya, dengan saling mengenal, memperhatikan, mengasihi, mendoakan, dan mempertumbuhkan. Buku acara retret sendiri mendorong setiap peserta untuk memakai kesempatan ini untuk bersekutu, berkenalan, dan saling mendoakan.

Dipertumbuhkan melalui Firman Tuhan

Retret tahun ini mengangkat tema “The Triune God & The Church: The God of Truth, The Hope of Glory & The Wellspring of Life.” Seluruh rangkaian acara disusun agar jemaat dapat beristirahat, bersekutu, dan terutama dipertumbuhkan melalui Firman Tuhan.

Ada dua bentuk utama pemberitaan Firman, yaitu sesi Pleno dan sesi Kapita Selekta. Lima sesi Pleno dibawakan oleh Pdt. Antonius Steven Un dan merupakan bagian dari rangkaian pemberitaan Firman yang dimulai sejak doa pagi pada Sabtu, 22 Agustus, dilanjutkan dengan khotbah Minggu di GRII Kebon Jeruk, dan diteruskan sepanjang retret.

Lima sesi pleno membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan jemaat: pemeliharaan Allah bagi mereka yang gagal, malu, dan patah hati; pengharapan dalam doa keluarga yang belum terjawab; ritme Roh Kudus di tengah dunia yang penuh kesibukan; pengampunan dan persahabatan di tengah keterasingan akibat dunia digital; serta kehidupan sebagai Tubuh Kristus.

Ada banyak berkat yang dapat diterima dari setiap sesi tersebut. Secara pribadi, salah satu sesi yang paling membekas bagi saya adalah sesi pembuka, “Ritme Roh Kudus, Ritme Hidup, dan Ritme Tubuh dalam Dunia tanpa Nafas.”

Saya kembali diingatkan betapa mudahnya hidup kita dikuasai oleh ritme di sekitar kita. Ada target yang harus dicapai, pekerjaan yang harus selesai, pelayanan yang perlu dikerjakan, dan berbagai hal lain yang terus meminta perhatian kita. Tanpa disadari, kita dapat hidup mengikuti ritme dunia di sekitar kita tanpa sungguh-sungguh bertanya apakah ritme tersebut adalah ritme yang Tuhan kehendaki.

Melalui Firman tersebut, saya diajak untuk membiarkan Roh Kudus menginterupsi hidup saya. Bukan terus berusaha memasukkan Tuhan ke dalam agenda yang sudah saya atur sendiri, tetapi belajar menundukkan ritme hidup saya kepada pimpinan-Nya.

Saya juga bersyukur untuk sesi-sesi lain yang memberikan penghiburan kepada jemaat dalam berbagai pergumulan. Ada penghiburan bagi mereka yang sudah lama berdoa tetapi belum melihat jawaban Tuhan melalui sesi “Kasih Kristus dan Pengharapan dalam Doa-Doa Keluarga yang Belum Terjawab.” Ada pula penghiburan bagi mereka yang bergumul dengan kegagalan, rasa malu, dan patah hati melalui sesi “Pemeliharaan Allah Bapa yang Setia bagi Mereka yang Gagal, Malu, dan Patah Hati.”

Firman yang diberitakan mengingatkan bahwa pengharapan orang percaya tidak bergantung pada kondisi hidup yang selalu berjalan sesuai keinginan kita, tetapi pada Allah yang setia memelihara umat-Nya.

Salah satu momen yang juga sangat saya syukuri adalah KKR pada malam kedua. Saya bersyukur untuk Firman yang diberitakan dengan limpah, untuk setiap orang yang kembali diingatkan akan panggilan untuk hidup bagi Tuhan, dan untuk kesempatan diberikan panggilan bagi mereka yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan.

Kiranya setiap komitmen yang diambil tidak berhenti pada pengalaman selama retret, tetapi sungguh dipelihara dan dipimpin oleh Tuhan dalam kehidupan setelahnya.

Firman yang masuk ke dalam pergumulan hidup jemaat

Selain sesi Pleno, retret tahun ini juga memiliki tiga sesi Kapita Selekta. Salah satu hal yang berbeda dibanding retret sebelumnya adalah bagaimana sesi-sesi ini disusun.

Kapita Selekta tidak hanya dikelompokkan berdasarkan usia, tetapi diarahkan kepada beberapa pergumulan konkret yang dihadapi jemaat.

Kelompok pertama berbicara mengenai fase kehidupan, mulai dari mempersiapkan hidup dewasa dan mencari pasangan, membangun rumah tangga, mendidik anak dan remaja, sampai menjalani masa tua yang berbuah.

Kelompok kedua berkaitan dengan pelayanan, mulai dari administrative ministry, outreach and caring ministry, worship ministry, sampai preaching ministry.

Kelompok ketiga masuk ke dalam pergumulan sehari-hari, yaitu bagaimana mengelola stres, keuangan, relasi, dan waktu.

Sesi-sesi ini juga memberi kesempatan bagi jemaat dari berbagai latar belakang dan kelompok usia untuk bertemu dan bertumbuh bersama. Dalam keseharian bergereja, kita dapat dengan mudah hanya berelasi dengan kelompok yang sama. Retret membuka ruang untuk mengenal bagian lain dari tubuh Kristus.

Belajar kembali hidup sebagai satu tubuh

Selain pemberitaan Firman, retret juga diperlengkapi dengan berbagai sesi kebersamaan. Ada olahraga, permainan, treasure hunt, pool games, board games, serta berbagai aktivitas lain yang dirancang untuk mempertemukan jemaat satu dengan yang lain.

Sekilas, aktivitas seperti ini mungkin terlihat sebagai bagian yang lebih ringan dari retret. Tetapi justru melalui kesempatan seperti inilah banyak relasi baru dapat terbangun.

Saya secara pribadi sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa bapak dan ibu yang sudah lanjut usia. Dalam kehidupan bergereja sehari-hari, belum tentu kesempatan seperti ini mudah terjadi. Melalui percakapan yang sederhana, saya boleh belajar dari hikmat yang Tuhan bentuk melalui perjalanan hidup mereka, mendengar pengalaman iman mereka, sekaligus belajar memperhatikan mereka sebagai saudara seiman.

Saya juga bersyukur untuk berbagai sesi permainan yang mencampurkan jemaat dari kelompok usia yang berbeda. Melalui kegiatan yang sederhana, ada percakapan baru, perkenalan baru, dan relasi baru yang dapat terjalin.

Pada malam pertama, kami juga memiliki kesempatan berkumpul dalam sesi api unggun. Di tengah udara malam dan alam yang indah, kami dapat menikmati ciptaan Tuhan sekaligus menikmati persekutuan bersama saudara seiman.

Perhatian terhadap pertumbuhan iman juga tidak hanya diberikan kepada orang dewasa. Anak-anak Sekolah Minggu memiliki rangkaian pemberitaan Firman, kebersamaan, dan permainan mereka sendiri. Saya bersyukur karena melalui retret ini, bukan hanya orang tua yang boleh menerima berkat, tetapi anak-anak pun mendapat kesempatan untuk mendengar Firman dan menikmati persekutuan bersama.

Setiap pagi, peserta juga didorong untuk memulai hari dengan saat teduh bersama teman sekamar. Renungan yang diberikan mengambil tulisan Thomas Watson dan mengajak kami merenungkan kehidupan baru di dalam Kristus serta ketaatan kepada Tuhan. Renungan hari pertama menekankan bahwa anugerah Allah menghasilkan perubahan hidup dan kerinduan yang semakin besar kepada Kristus, sedangkan renungan hari kedua mengingatkan bahwa mendengar Firman harus menghasilkan ketaatan yang nyata.

Belajar beristirahat, berserah, dan kembali mempersembahkan hidup

Secara pribadi, salah satu hal terbesar yang saya terima melalui retret ini adalah belajar kembali untuk beristirahat dan berserah kepada Tuhan.

Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, dan bahkan di tengah padatnya tanggung jawab selama mengikuti retret, Tuhan tetap memberikan istirahat bagi jiwa saya melalui Firman dan persekutuan. Saya bersyukur untuk setiap percakapan dengan jemaat, setiap waktu bersama rekan panitia, setiap kesempatan mengenal orang baru, dan setiap Firman yang kembali mengarahkan hati kepada Tuhan.

Namun saya juga belajar bahwa beristirahat di dalam Tuhan bukan berarti menjadi pasif.

Justru melalui sesi pembuka dan KKR, saya kembali diingatkan bahwa hidup ini adalah milik Tuhan. Kita tidak dipanggil untuk membangun kehidupan berdasarkan ritme dan tujuan kita sendiri. Kita dipanggil untuk menyerahkan hidup kepada-Nya dan mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Salah satu kalimat yang sangat membekas bagi saya dari KKR adalah bahwa Tuhan tidak menghendaki mezbah yang kosong. Saya kembali diingatkan bahwa hidup orang percaya adalah hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan. Waktu, tenaga, kemampuan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan seluruh hidup kita adalah milik-Nya.

Bagi saya, ini menjadi satu pelajaran yang indah dari retret kali ini. Saya diajar untuk berhenti, tetapi saya juga diutus kembali untuk bekerja. Bedanya, bukan lagi mengikuti ritme saya sendiri, melainkan belajar mengikuti ritme yang Tuhan tetapkan.

Retret selesai, tetapi pekerjaan Tuhan tidak berhenti

Retret hanya berlangsung beberapa hari. Setelah itu, kita kembali ke Jakarta, kembali kepada pekerjaan, keluarga, studi, pelayanan, dan segala kesibukan yang menanti.

Kiranya Tuhan terus menolong kita untuk memberi ruang bagi Roh Kudus menginterupsi ritme hidup kita. Kiranya kita semakin menikmati Firman-Nya, semakin belajar memperhatikan saudara seiman, dan semakin sungguh mempersembahkan seluruh hidup bagi kemuliaan-Nya.

Retret adalah salah satu wadah anugerah yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya untuk berhenti sejenak, menikmati Tuhan, dan menikmati persekutuan sebagai tubuh Kristus. Jika Tuhan memberikan kesempatan, kiranya tiga tahun mendatang kita kembali mengambil waktu untuk berhenti bersama, belajar bersama, dan menikmati anugerah Tuhan bersama gereja-Nya. Mari kita bersama memperjuangkan kesempatan berhargai ini dan berkomitmen untuk bersama-sama mengikuti retret 3 tahun lagi.

Oleh kemurahan Allah, bagi kemuliaan Allah.