Sketsa karya Daniel Rowlands ini pertama kali muncul di ‘The Family Treasury’ bersama delapan sketsa pena pendeta abad ke 18 lainnya. Sketsa-sketsa ini diterbitkan bersama sebagai ‘Christian Leaders of the Last Century.’
Tempat lahir dan asal-usul Whitefield—Dididik di Gloucester Grammar School—Masuk Pembroke College, Oxford—Masa pergumulan rohani—Buku-buku yang bermanfaat baginya—Ditahbiskan oleh Uskup Benson—Khotbah pertama—Berkhotbah di London—Asisten pendeta dari Dummer, Hants—Pergi ke Amerika—Kembali dalam satu tahun—Berkhotbah di ruang terbuka—Dikucilkan dari mayoritas mimbar-mimbar di London—Jangkauan pelayanannya selama tiga puluh satu tahun—Meninggal di Newburyport, Amerika di tahun 1770—Keadaan kematiannya yang menarik.
Pendahuluan
Siapakah orang-orang yang membangkitkan Kekristenan di Inggris seratus tahun yang lalu? Siapa saja nama mereka, agar kita bisa memberi mereka penghormatan? Di mana mereka lahir? Bagaimana mereka dididik? Apa saja fakta-fakta penting dalam hidup mereka? Apa bidang khusus pelayanan mereka? Kepada pertanyaan-pertanyaan ini saya coba untuk berikan jawaban di bab ini dan bab-bab kemudian.
Saya mengasihani orang yang tidak tertarik kepada pertanyaan-pertanyaan demikian. Alat-alat yang Tuhan pakai untuk melaksanakan pekerjaan-Nya di dunia ini layak untuk diperhatikan dengan seksama. Orang yang tidak peduli untuk melihat tanduk domba jantan yang meruntuhkan Yerikho, palu dan paku yang membunuh Sisera, obor dan terompet Gideon, ketapel dan batu Daud, dapat dianggap sebagai orang yang dingin dan tak berperasaan. Saya percaya bahwa semua yang membaca jilid ini ingin mengetahui sesuatu tentang para penginjil Inggris di abad ke-18.
Yang pertama-tama dan terutama akan saya sebut adalah George Whitefield yang terkenal. Meskipun bukan yang pertama dalam urutan bila kita melihat tanggal lahirnya, saya tanpa ragu menempatkannya sebagai yang pertama dalam urutan kehormatan. Dari semua pahlawan rohani dari seratus tahun yang lalu tidak ada yang melihat secepat Whitefield apa yang dituntut zaman tersebut, dan tidak ada yang segencar dia dalam pekerjaan besar perjuangan rohani. Saya pikir saya bertindak tidak adil jika saya tempatkan nama lain sebelum namanya.
Whitefield lahir di Gloucester pada tahun 1714. Kota tua itu, yang adalah tempat lahirnya, terkait dengan lebih dari satu nama yang seharusnya berharga bagi setiap pecinta kebenaran Protestan. Tyndal, salah satu penerjemah Alkitab bahasa Inggris yang pertama dan paling handal adalah orang Gloucestershire. Hooper, salah satu reformator Inggris yang terbaik dan terbesar, adalah uskup Gloucester, dan ia dibakar hidup-hidup di tiang demi kebenaran Kristus, di hadapan katedralnya sendiri, di masa pemerintahan Ratu Mary.
Di abad selanjutnya Miles Smith, Uskup Gloucester, adalah salah satu yang pertama untuk memprotes kebijakan-kebijakan bernada Katolik Roma milik Laud, yang pada waktu itu adalah Dekan Gloucester. Pada kenyataannya, dia membawa semangat Protestannya begitu serius, sampai saat Laud memindahkan meja komuni di katedral ke sisi timur, dan menempatkannya pertama kali sebagai “altar,” di tahun 1616, Uskup Smith juga merasa sangat kesal hingga dia menolak untuk masuk ke dalam katedral tersebut dari hari itu sampai kematiannya.
Tempat-tempat seperti Gloucester, tidak perlu kita ragukan lagi, mempunyai warisan yang kaya dari banyak doa. Kota di mana Hooper berkhotbah dan berdoa, dan di mana Miles Smith yang berapi-api memprotes, adalah tempat lahirnya pengkhotbah Injil terbesar yang pernah Inggris saksikan.
Seperti banyak orang terkenal lainnya, Whitefield mempunyai latar belakang yang sederhana, dan tidak punya koneksi dengan orang kaya atau pejabat untuk membantunya sukses di dunia. Ibunya menjaga sebuah penginapan yang bernama Bell Inn di Gloucester, dan tampaknya usahanya tidak begitu berhasil; dari sisi mana pun, tampaknya dia tidak pernah dapat melakukan hal apa pun untuk membantu Whitefield maju dalam hidupnya. Penginapannya tersebut masih berdiri dan dikenal sebagai tempat lahir bukan hanya dari pengkhotbah Inggris terbesar kita, tetapi juga dari seorang uskup terkenal lainnya dari Inggris–Henry Philpot, uskup Exeter.

Kehidupan awal George Whitefield
Berdasarkan pengakuannya sendiri, dia sama sekali tidak saleh, meskipun, seperti kebanyakan anak laki-laki, kadang-kadang dia merasakan teguran hati nurani dan dorongan-dorongan sesaat untuk taat. Tetapi kebiasaan dan kesenangan umum adalah satu-satunya ujian sesungguhnya dari karakter para pemuda. Dia mengakui bahwa dia “sangat suka berbohong, berbicara kotor, dan bercanda sembrono,” dan dia adalah seorang “pelanggar Sabat, pengunjung teater, pemain kartu, dan pembaca kisah romantis.” Semua ini, katanya, terus berlanjut hingga dia berumur 15 tahun.
Meskipun miskin, tempat tinggalnya di Gloucester memberikannya keuntungan mendapatkan pendidikan yang baik di Free Grammar School di kota itu. Di sini dia adalah murid harian sampai dia berusia 15 tahun. Tak ada yang diketahui tentang kemajuannya di sana. Namun, dia tidak mungkin sedikit pun bermalas-malasan, atau mustahil baginya untuk masuk ke universitas setelahnya pada usia delapan belas tahun.
Surat-suratnya juga menunjukkan pengenalan bahasa Latin, dalam bentuk kutipan yang sering, yang jarang didapatkan, bila tidak diperoleh di sekolah. Satu-satunya hal yang diketahui tentang masa sekolahnya adalah bahkan sejak saat itu dia dikenal untuk kemampuan bicaranya dan daya ingatnya yang baik, dan terpilih untuk membaca pidato-pidato di hadapan para petinggi Gloucester pada kunjungan tahunan mereka ke sekolah itu.
Pada umur 15 tahun Whitefield sepertinya meninggalkan sekolah, dan berhenti belajar bahasa Latin dan bahasa Yunani untuk suatu masa. Kemungkinan besar, keadaan ibunya yang semakin terhimpit membuatnya harus bekerja untuk membantunya dalam usaha dan menghidupi dirinya sendiri. Maka dia mulai membantunya dalam pekerjaan harian Bell Inn. “Akhirnya,” katanya, “aku mengenakan celemek biruku, mencuci gelas-gelas, membersihkan kamar-kamar, dan, dalam satu kata, menjadi pelayan penginapan biasa selama hampir satu setengah tahun.”
Dari Bell Inn ke Pembroke College
Bagaimanapun, keadaan ini tidak bertahan lama. Usaha ibunya di Bell Inn tidak berkembang, dan dia akhirnya berhenti sepenuhnya dari usaha itu.
Seorang kawan lama membangkitkan kembali ide dalam pikirannya untuk pergi ke Oxford, dan dia kembali ke Grammar School dan melanjutkan studinya. Beberapa teman pun muncul yang merekomendasikannya di Pembroke College, Oxford, di mana Grammar School Gloucester mengadakan dua pameran. Dan akhirnya, setelah beberapa peristiwa pengaturan Allah memuluskan jalannya, dia masuk Oxford sebagai servitor–mahasiswa pelayan demi mendapatkan beasiswa di Pembroke pada usia delapan belas tahun.
Tempat tinggal Whitefield di Oxford menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Selama dua atau tiga tahun sebelum dia pergi ke Universitas, jurnal hariannya menceritakan bahwa dia hidup tanpa keyakinan rohani. Tetapi sejak saat dia masuk Pembroke College keyakinan ini dengan pesat berkembang menjadi Kekristenan yang teguh. Dia dengan tekun mengikuti semua sarana anugerah yang berada dalam jangkauannya, dia menggunakan waktu senggangnya untuk mengunjungi penjara kota, membaca untuk para narapidana dan berusaha berbuat baik.
Dia mulai mengenal John Wesley yang terkenal dan saudaranya Charles, dan sekelompok kecil pemuda yang berpikiran sama, termasuk pengarang “Theron and Aspasio” yang terkenal, James Hervey. Merekalah kelompok sungguh-sungguh yang pertama kali disebut “Methodist”, karena “metode” kehidupan mereka yang ketat.
Dalam suatu masa dia tampaknya membaca dengan serius buku-buku seperti “Thomas a Kempis,” dan “Castanuza’s Spiritual Combat,” dan berada dalam bahaya untuk menjadi semi-Katolik, seorang asketis, atau seorang mistikus, dan menyangkal seluruh Kekristenan. Dia mengatakan dalam jurnalnya, “Aku selalu memilih makanan yang terburuk. Aku berpuasa dua kali seminggu. Pakaianku buruk. Aku pikir tidak pantas seorang yang telah bertobat membedaki rambutnya. Aku mengenakan sarung tangan wol, jubah tambalan, dan sepatu kotor; dan meskipun aku yakin bahwa Kerajaan Allah bukan hanya soal makanan dan minuman, namun aku bersikeras dalam tindakan-tindakan penyangkalan diri sukarela ini, karena aku merasakan di dalamnya kemajuan besar dari kehidupan rohani.”
Dari semua kegelapan ini dia perlahan-lahan diselamatkan, sebagian melalui nasihat satu atau dua orang Kristen berpengalaman, dan sebagian lain dengan membaca buku-buku seperti “Life of God in the Heart of Man” karya Scougal, “Serious Call,” karya Law, “Call to the Unconverted” karya Baxter, “Alarm to Unconverted Sinners” karya Alleine, dan “Commentary” karya Matthew Henry.
“Yang terpenting,” katanya, “pikiranku kini menjadi lebih terbuka dan diperluas, aku mulai membaca Alkitab sambil berlutut, menyingkirkan semua buku lainnya, dan, jika mungkin mendoakan setiap baris, ayat, dan kata. Ini terbukti benar-benar menjadi daging dan minuman bagi jiwaku. Aku menerima hidup segar, cahaya, dan kekuatan dari atas setiap harinya. Aku mendapatkan lebih banyak pengetahuan sejati dari membaca buku Tuhan dalam sebulan daripada yang pernah bisa kudapatkan dari semua tulisan manusia.”
Begitu diajarkan untuk mengerti kebebasan yang mulia dari Injil Kristus, Whitefield tidak pernah kembali lagi kepada asketisme, legalisme, mistisisme, atau pandangan tak lazim tentang kesempurnaan Kristen. Pengalaman yang didapatkan dari konflik yang pahit menjadi yang paling berharga baginya. Doktrin anugerah bebas, begitu seluruhnya dipahami, berakar dengan dalam di hatinya, dan menjadi seperti tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya.
Dari semua anggota perkumpulan kecil metodis Oxford, tampaknya tidak ada yang secepat dia untuk memiliki pandangan jelas tentang Injil Kristus, dan tidak ada yang mempertahankannya sampai akhir sepertinya.
Diakui dalam Ordo Suci
Pada usia semuda dua puluh dua tahun Whitefield diterima dalam ordo suci oleh Uskup Benson dari Gloucester, pada Minggu Trinitas, 1736. Penahbisannya bukan atas pengejarannya sendiri. Sang Uskup mendengar tentang karakternya dari Lady Selwyn dan yang lainnya, memanggilnya, memberinya lima koin guinea untuk membeli buku-buku, dan menawarkan untuk menahbiskannya meski baru berusia dua puluh dua tahun, kapan pun dia mau.
Tawaran tak terduga ini datang kepadanya ketika dia sedang penuh keraguan tentang kelayakannya sendiri untuk pelayanan. Tawaran itu menyelesaikan segala keraguannya dan membawanya ke titik keputusan. “Aku mulai berpikir, katanya, “jika aku menunda lebih lama, aku menentang Tuhan.”
Khotbah Whitefield yang pertama dikhotbahkannya di kota yang sama di mana dia lahir, di gereja St. Mary-le-Crypt, Gloucester. Gambarannya sendiri mengenai khotbah tersebut adalah kisah terbaik yang dapat diberikan: – “Minggu lalu, di sore hari, aku mengkhotbahkan khotbah pertamaku di gereja St. Mary-le-Crypt, tempat aku dibaptis, dan juga menerima sakramen perjamuan kudus untuk pertama kalinya. Rasa penasaran, seperti yang bisa dengan mudah engkau tebak, menarik jemaat yang banyak datang berkumpul pada kesempatan ini.
Pemandangan tersebut pada awalnya sedikit membuatku takjub. Tetapi aku ditenangkan dengan perasaan-perasaan kehadiran Ilahi dari hati, dan segera menemukan keuntungan yang tidak bisa diungkapkan yaitu keterbiasaan berbicara di depan umum ketika masih bocah di sekolah, dan menasehati para narapidana dan para orang miskin di rumah-rumah mereka ketika masih di universitas. Dengan cara-cara ini aku terhindar dari rasa gentar berlebihan.
Semakin aku menjalankannya, aku merasakan apinya menyala, hingga akhirnya, meski begitu muda dan di tengah kerumunan orang-orang yang mengenalku sejak masa kanak-kanakku, kupercaya aku diberi kemampuan untuk berbicara dengan otoritas Injil pada tingkat tertentu. Sebagian kecil orang mengolok-olok, tetapi kebanyakan pada saat itu tampaknya tercengang; dan sejak itu aku mendengar ada keluhan yang disampaikan kepada sang uskup bahwa aku membuat lima belas orang marah pada khotbah pertama! Uskup yang terhormat itu berharap agar kemarahan ini tidak terlupakan sebelum hari Minggu depannya.”
Jemaat Dikejutkan dan Terpengaruhi dengan Hebat
Hampir segera setelah penahbisannya, Whitefield pergi ke Oxford dan mengambil gelar Bachelor of Arts. Dia kemudian memulai kehidupan pelayanan rutinnya dengan menjalankan tugas sementara di Tower Chapel, London, selama dua bulan. Selama terlibat di sana, dia terus berkhotbah di banyak gereja di London; dan antara yang lain di gereja-gereja paroki Islington, Bishops-gate, St Dunstan’s, St. Margaret’s, Westminster, dan Bow, Cheapside.
Sejak pertama kali dia memperoleh tingkat kepopuleran yang mungkin belum pernah dicapai oleh pengkhotbah manapun, sebelum maupun sesudahnya. Baik pada hari biasa maupun Minggu, di manapun dia berkhotbah, gereja-gereja selalu ramai, dan sensasi besar ditimbulkan. Kenyataannya adalah, seorang pengkhotbah yang sangat fasih tanpa persiapan memberitakan Injil yang murni dengan bakat suara dan cara yang sangat langka, pada saat itu merupakan hal yang sama sekali baru di London. Jemaat terkejut dan heran.
Dari London dia pindah untuk dua bulan ke Dummer, sebuah paroki pedesaan kecil di Hampshire, dekat Basingstoke. Ini adalah langkah yang benar-benar baru, dan dia tampak seperti orang yang terkubur hidup-hidup di antara orang-orang miskin yang buta huruf. Namun dia segera berdamai dengan kenyataan itu, dan kemudian menyadari bahwa dia banyak diuntungkan dengan berbincang dengan orang-orang miskin.
Dari Dummer dia menerima sebuah undangan yang sangat didesakkan oleh para Wesley bersaudara kepadanya, untuk mengunjungi koloni Georgia di Amerika Utara dan membantu merawat sebuah panti asuhan yang telah didirikan di dekat Savannah untuk anak-anak dari para kolonis.
Perjalanan Pertama ke Georgia 1737
Setelah berkhotbah untuk beberapa bulan di Gloucestershire, dan khususnya di Bristol dan Stonehouse, dia berlayar ke Amerika pada akhir tahun 1737, dan menetap di sana sekitar satu tahun. Perlu dicatat, urusan Panti Asuhan ini menyita banyak perhatiannya sejak periode hidupnya ini hingga dia meninggal. Meskipun berniat baik, tampaknya hal tersebut merupakan sebuah rancangan yang bijaksananya sangat patut dipertanyakan, dan tentu saja membebani Whitefield dengan banyak kegelisahan dan tanggung jawab hingga akhir hayatnya.
Whitefield kembali dari Georgia pada bagian akhir tahun 1738, sebagian untuk mendapatkan penahbisan sebagai imam, yang diberikan kepadanya oleh teman lamanya, Uskup Benson, dan sebagian lain untuk urusan yang berhubungan dengan Panti Asuhan. Namun, dia segera menyadari bahwa posisinya tidak lagi sama seperti sebelum dia berlayar menuju Georgia. Kebanyakan pendeta tidak lagi menyukainya, dan mencurigainya sebagai seorang yang antusias berlebihan dan fanatik.
Mereka khususnya merasa tersinggung dengan khotbah doktrin regenerasi atau kelahiran baru, sebagai sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang yang telah dibaptis! Jumlah mimbar yang dapat diaksesnya berkurang dengan cepat. Para pengurus gereja, yang tidak peduli akan kemabukan dan kecemaran, dipenuhi kemarahan besar terhadap apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran ketertiban.”
Para uskup yang dapat menoleransi Arianisme, Socinianisme, dan Deisme, dipenuhi dengan kemarahan kepada seseorang yang menyatakan sepenuhnya penebusan Kristus dan pekerjaan Roh Kudus, dan mulai mengecam dia secara terbuka. Singkatnya, sejak periode hidupnya ini, lingkup pelayanan Whitefield di dalam Gereja Inggris menyempit dengan pesat dari segala arah.
Khotbah di Ruang Terbuka
Langkah yang pada titik ini mengubah pelayanan Whitefield secara keseluruhan adalah penerapan sistem khotbah di ruang terbukanya. Menyadari ribuan orang di mana-mana tidak mau menghadiri tempat ibadah, menghabiskan hari Minggu mereka dalam kemalasan atau dosa, dan tidak dijangkau oleh khotbah di dalam ruangan, dia memutuskan dengan semangat serangan rohani yang kudus, untuk mengejar mereka “ke jalan-jalan dan lintasan,” atas prinsip Tuhannya, dan “memaksa mereka untuk masuk.” Upaya pertamanya untuk melakukan hal ini adalah kepada para penambang batu bara di Kingswood dekat Bristol, pada Februari 1739. Setelah banyak doa, suatu hari dia pergi ke Hannam Mount, dan berdiri di atas sebuah bukit untuk mulai berkhotbah kepada sekitar seratus penambang batu bara tentang Matius 5:1-3. Hal itu segera tersebar. Jumlah pendengar meningkat pesat, hingga jemaatnya mencapai ribuan orang.
Pengakuannya sendiri tentang perilaku para penambang batu bara yang terabaikan ini, yang tidak pernah berada di dalam satu gereja pun seumur hidup mereka, sangat menyentuh:- “Karena,” tulisnya kepada seorang teman, “tanpa memiliki kebenaran mereka sendiri yang harus dilepaskan, mereka bersukacita mendengar tentang sosok Yesus yang adalah sahabat para pemungut cukai, dan datang bukan untuk memanggil orang-orang benar, tetapi orang-orang berdosa untuk bertobat. Tanda pertama bahwa mereka terdampak terlihat dari jalur-jalur putih di pipi-pipi hitam mereka yang terbentuk oleh air mata mereka yang bercucuran deras saat keluar dari lubang tambang batu bara.
Ratusan dari mereka segera dibawa kepada keyakinan mendalam akan dosa yang sebagaimana dibuktikan oleh peristiwa itu, berakhir dengan sukacita dalam pertobatan yang kuat dan menyeluruh. Perubahan tersebut terlihat oleh semua orang, meskipun banyak yang memilih untuk menganggapnya sebagai apa pun selain campur tangan Tuhan. Karena situasi itu masih sedikit baru, sering kali menyebabkan banyak konflik batin. Kadang-kadang, ketika dua puluh ribu orang berada di hadapanku, aku sendiri di dalam keteganganku tidak memiliki sepatah kata pun untuk diucapkan kepada Tuhan maupun kepada mereka.
Tetapi aku tidak pernah benar-benar ditinggalkan, dan sering kali (karena menyangkalnya berarti berdusta terhadap Tuhan) begitu terbantu sehingga aku tahu melalui pengalaman bahagia apa yang Tuhan kita maksud saat mengatakan, ‘Dari dalam hatinya akan mengalir aliran air hidup.’ Cakrawala yang terbuka di atasku, pemandangan ladang-ladang di sekitarnya, dengan pemandangan ribuan orang, sebagian di dalam kereta kuda, beberapa menunggangi kuda, dan sebagian di antara pepohonan, dan kadang-kadang semuanya tergerak dan bercucuran air mata, hampir tak tertahankan, dan sungguh mengharukanku.”
Khotbah Ruang Terbuka di London
Dua bulan setelahnya, Whitefield memulai kebiasaan khotbah di ruang terbuka di London, pada tanggal 27 April 1739. Kejadian yang melatarbelakangi hal ini sangat menarik. Dia pergi ke Islington untuk berkhotbah bagi Vikaris di sana, temannya Tuan Stonehouse. Di tengah doa, para pengurus gereja mendatanginya dan meminta izinnya untuk berkhotbah di keuskupan London. Whitefield tentu saja sudah tidak memiliki izin ini lagi, sama seperti pendeta lain yang tidak secara rutin bertugas di keuskupan tersebut pada masa itu.
Akibat dilarang oleh para pengurus gereja untuk berkhotbah di mimbar, dia pergi keluar setelah Perjamuan Kudus, dan berkhotbah di halaman gereja. “Dan,” katanya, “Tuhan berkenan untuk menolongku dalam berkhotbah, dan dengan begitu indahnya untuk menggerakkan para pendengar, sehingga aku yakin kami bisa menyanyikan lagu-lagu himne sambil menuju penjara. Jangan sampai para lawan berkata, aku telah mengusir diriku sendiri dari sinagoge mereka. Tidak; merekalah yang telah mengusir aku.”
Sejak hari itu, dia menjadi pengkhotbah ruang terbuka secara tetap, kapan pun cuaca dan musimnya memungkinkan. Dua hari kemudian, pada hari Minggu, 29 April, dia mencatat:- “Aku berkhotbah di Moorfields kepada kerumunan yang luar biasa besar. Setelah lelah karena khotbah pagi, aku menyegarkan diri di sore harinya dengan tidur sejenak, dan pada pukul lima pergi dan berkhotbah di Kennington Common, sekitar dua mil dari London, ketika tidak kurang dari tiga puluh ribu orang diperkirakan akan hadir.”
Sejak saat itu, di mana pun ada ruang terbuka luas di sekitar London, di mana pun ada kerumunan besar orang yang tidak melakukan apa-apa, yang tak takut akan Tuhan, dan yang melanggar hari Sabat berkerumun, di Hackney Fields, Mary-le-bonne Fields, May Fair, Smithfield, Blackheath, Moorfields, dan Kennington Common, ke sanalah Whitefield pergi dan mengangkat suaranya bagi Kristus. Injil yang diberitakan didengarkan dan diterima dengan sangat bersemangat oleh ratusan orang yang tidak pernah berpikir untuk pergi ke sebuah tempat ibadah.
Perjuangan iman yang murni pun berkembang, dan jiwa-jiwa dicabut dari tangan Iblis seperti bara panas dari perapian. Namun, hal itu berlangsung terlalu cepat untuk Gereja pada masa itu. Para pendeta, dengan hanya beberapa pengecualian yang baik, sepenuhnya menolak untuk menerima pengkhotbah tak lazim ini. Dengan sikap egois, mereka tidak suka mengejar massa penduduk yang setengah kafir itu sendiri, dan juga tidak suka orang lain melakukan pekerjaan itu untuk mereka.
Konsekuensinya, pelayanan Whitefield di mimbar-mimbar Gereja Inggris sejak saat itu hampir sepenuhnya terhenti.
Dia mencintai Gereja di mana dia telah ditahbiskan; dia bermegah dalam pengakuan imannya; dia menggunakan Buku Doanya dengan sukacita. Tetapi Gereja tidak mencintainya, dan karenanya kehilangan pelayanannya. Kenyataan yang apa adanya adalah, Gereja Inggris pada masa itu belum siap untuk orang seperti Whitefield. Gereja terlalu tertidur untuk memahaminya, dan geram pada orang yang tidak bisa diam dan membiarkan iblis tenang.
Dia adalah Orang yang Sangat Berfokus kepada Satu Hal
Fakta-fakta sejarah hidup Whitefield dari periode ini sampai hari kematiannya hampir seluruhnya memiliki pola yang sama. Satu tahun serupa seperti tahun yang lainnya; dan untuk mengikutinya, dia hanya terus-menerus mengulangi hal yang sama. Dari tahun 1739 sampai tahun kematiannya 1770, dalam kurun waktu tiga puluh satu tahun, hidupnya adalah satu pekerjaan yang sama. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh berfokus pada satu hal, dan selalu tentang urusan Tuhannya.
Dari Minggu pagi sampai Sabtu malam, dari 1 Januari sampai 31 Desember, kecuali ketika dia harus berhenti karena sakit, dia hampir tanpa henti memberitakan Kristus, dan pergi berkeliling untuk memohon kepada orang-orang untuk bertobat dan datang kepada Kristus dan diselamatkan. Hampir tidak ada kota penting di Inggris, Skotlandia, atau Wales, yang tidak dikunjunginya sebagai penginjil. Ketika gereja-gereja terbuka untuknya, dia dengan senang hati berkhotbah di gereja-gereja; saat hanya kapel yang dapat diperoleh, dia berkhotbah di kapel-kapel dengan gembira.
Ketika gereja-gereja dan kapel-kapel tertutup, atau terlalu kecil untuk menampung para pendengarnya, dia bersedia untuk berkhotbah di ruang terbuka. Selama tiga puluh satu tahun dia melayani dengan cara ini, selalu memberitakan Injil mulia yang sama, dan selalu, sejauh mata manusia mampu menilai, dengan dampak yang sangat besar.
Dalam suatu minggu setelah Pentakosta, setelah berkhotbah di Moorfields, dia menerima seribu surat dari orang-orang yang memiliki pergumulan rohani, dan menerima tiga ratus lima puluh orang untuk hadir ke Perjamuan Kudus. Dalam tiga puluh empat tahun pelayanannya, diperkirakan bahwa dia berkhotbah sekitar delapan belas ribu kali.
Perjalanan-Perjalanannya
Perjalanan-perjalanannya sangatlah mengagumkan, jika mempertimbangkan jalan dan alat transportasi pada masanya. Dia terbiasa dengan “bahaya di belantara dan bahaya di lautan,” sebagaimana hanya sedikit orang di zaman modern mengalaminya. Dia mengunjungi Skotlandia empat belas kali, dan tidak ada tempat lain di mana dia lebih diterima atau bermanfaat dibandingkan di negara pecinta Alkitab itu.
Dia tujuh kali pulang pergi menyeberangi Samudra Atlantik di kapal layar lambat yang menyedihkan, dan menarik perhatian ribuan orang di Boston, New York, dan Philadelphia. Dia menyeberang ke Irlandia dua kali, dan pada suatu kejadian hampir terbunuh oleh segerombolan orang Katolik yang fanatik di Dublin. Sekitaran Inggris dan Wales, dia mengunjungi setiap daerahnya, dari Isle of Wight hingga Berwick-on-Tweed, dan dari Land’s End hingga North Foreland.
Pelayanan rutinnya di London untuk musim dingin, saat khotbah ruang terbuka harus ditunda, merupakan sesuatu yang mengagumkan. Kegiatan mingguannya di Gedung Tabernacle di jalan Tottenham Court, yang dibangun untuknya ketika mimbar-mimbar Gereja Anglikan ditutup, meliputi pekerjaan berikut:–Setiap Minggu pagi dia memimpin Perjamuan Kudus kepada ratusan jemaat pada pukul setengah tujuh.
Setelah ini dia membacakan doa-doa, dan berkhotbah baik pagi maupun siang . Kemudian dia berkhotbah lagi di sore hari pukul setengah enam, dan mengakhiri dengan berbicara kepada sekelompok besar janda-janda, orang-orang yang sudah menikah, pemuda dan para wanita tua yang belum menikah, yang semuanya berada di lokasi terpisah di area Gedung Tabernacle, dengan nasihat yang sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.
Pada hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis pagi, dia berkhotbah secara rutin pada pukul enam. Pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu malam, dia menyampaikan ceramah. Perlu diperhatikan, ini berarti tiga belas khotbah seminggu! Dan selama ini dia di waktu yang sama juga melakukan banyak surat menyurat dengan orang-orang di hampir setiap penjuru dunia.
Fakta bahwa tubuh manusia dapat menanggung pekerjaan yang Whitefield jalani tampaknya memang menakjubkan. Bahwa hidupnya tidak diakhiri oleh kekerasan, yang sering kali dijumpainya, juga tidak kalah menakjubkan. Tetapi, dia tetap abadi hingga pekerjaannya selesai. Dia akhirnya meninggal dengan sangat mendadak di Newburyport, Amerika Utara, pada hari Minggu, tanggal 29 September 1770, di usia yang relatif muda, yaitu lima puluh enam tahun.
Pernikahan dan Kematian
Dia pernah menikah dengan seorang janda bernama James, dari Abergavenny, yang meninggal sebelum dirinya. Bila kita nilai dari sedikitnya penyebutan istrinya dalam surat-suratnya, pernikahan tersebut tampaknya tidak berkontribusi banyak pada kebahagiaannya. Dia tidak mempunyai anak, tetapi dia meninggalkan sebuah nama yang jauh lebih baik daripada anak laki-laki maupun perempuan. Mungkin tidak pernah ada seorang yang dapat dikatakan dengan begitu tepatnya bahwa dia telah memakai hidupnya dan terpakai sampai habis untuk Kristus seperti George Whitefield.
Keadaan-keadaan dan hal-hal kecil tentang akhir hidup penginjil besar ini begitu menarik, sehingga saya rasa tidak perlu untuk membahasnya lebih lanjut. Itu merupakan akhir yang sangat selaras dengan nada hidupnya. Sebagaimana dia telah hidup lebih dari tiga puluh tahun, demikian pula dia meninggal, berkhotbah hingga akhir hayatnya.
Dia benar-benar hampir meninggal saat menjalankan pekerjaannya. “Kematian mendadak,” dia sering mengatakan, “adalah kemuliaan mendadak. Benar atau tidak, aku tidak bisa menahan untuk tidak berharap juga pergi dengan cara demikian. Bagiku, akan lebih buruk daripada kematian jika hidup untuk dirawat, dan melihat teman-teman menangis di sekelilingku.” Keinginan hatinya dikabulkan. Dia meninggal dengan seketika dalam satu malam karena serangan asma spasmodik, hampir sebelum teman-temannya mengetahui bahwa dia sedang sakit.
Pada Sabtu pagi tanggal 29 September, sehari sebelum dia meninggal, Whitefield berangkat berkuda dari Portsmouth di New Hampshire, untuk memenuhi undangan berkhotbah di Newburyport pada hari Minggu. Sayangnya, dalam perjalanan, dia diminta dengan sangat untuk berkhotbah di suatu tempat bernama Exeter, dan walaupun merasa kondisinya sangat buruk, dia tidak sampai hati untuk menolaknya. Seorang teman mengatakan sebelum dia berkhotbah dia terlihat lebih gelisah dari biasanya, dan bilang kepadanya, “Pak, Anda lebih cocok beristirahat daripada berkhotbah.”
Kepada kalimat ini Whitefield menjawab: “Benar, Pak;” dan kemudian menoleh ke samping dia menggenggam kedua tangannya, dan melihat ke atas, berkata: “Tuhan Yesus, aku lelah dalam pekerjaan-Mu, tetapi bukan terhadap pekerjaan-Mu. Jika aku belum menuntaskan perjalananku biarlah aku pergi dan sekali lagi berbicara di ladang, memeteraikan kebenaran-Mu, lalu pulang dan mati.” Kemudian dia pergi dan berkhotbah kepada kerumunan yang sangat besar di ruang terbuka dari perikop 2 Korintus 13:5, selama hampir dua jam. Itu adalah khotbah terakhirnya, dan penutup yang cocok untuk seluruh kariernya.
Bagian Penutup dari Hidup Whitefield
Seorang saksi mata telah memberikan kisah yang mengejutkan tentang bagian penutup dari hidup Whitefield yang demikian:–“Dia bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri tegak. Penampilannya saja sudah merupakan sebuah khotbah yang kuat. Wajahnya yang tirus, kepucatannya, pergumulan yang nampak dari percikan surgawi dalam sebuah tubuh yang lapuk untuk mengungkapkan kata-kata, sungguh sangat menyentuh; rohnya ingin, namun dagingnya sedang sekarat. Dalam situasi ini dia terdiam beberapa menit, tak mampu berbicara.
Dia kemudian berkata: ‘Aku akan menunggu pertolongan Tuhan yang penuh anugerah, karena aku yakin Ia akan menolongku untuk sekali lagi berbicara dalam nama-Nya.’ Kemudian dia menyampaikan mungkin salah satu khotbah terbaiknya. Bagian akhirnya berisi berikut: Aku pergi; aku pergi ke peristirahatan yang telah dipersiapkan: matahariku telah memberikan cahaya kepada banyak orang, tetapi sekarang akan segera terbenam- tidak, untuk terbit menuju puncak kemuliaan abadi. Aku telah hidup lebih lama dari banyak orang di bumi, tetapi mereka tidak akan hidup lebih lama dariku di surga.
Banyak orang yang akan hidup lebih lama dariku di bumi dan hidup saat tubuh ini sudah tiada, tetapi di sana–oh, pikiran ilahi!–aku akan berada di dunia di mana waktu, usia, penyakit, dan kesedihan tidak diketahui. Tubuhku melemah, tetapi rohku bertumbuh. Betapa inginnya aku selamanya hidup untuk memberitakan Kristus. Tetapi aku mati untuk bersama-Nya. Betapa singkatnya –terlalu singkat–hidupku dibandingkan dengan pekerjaan besar yang kulihat di hadapanku yang masih harus diselesaikan. Tetapi jika aku pergi sekarang, ketika begitu sedikit yang peduli tentang hal-hal surgawi, Allah sumber damai sejahtera pasti akan melawatmu.”
Setelah khotbah tersebut selesai, Whitefield makan bersama dengan seorang teman, lalu melanjutkan perjalanan ke Newburyport, meskipun sangat kelelahan. Sesampainya di sana, dia makan malam lebih awal dan beristirahat. Menurut tradisi, selagi dia menaiki tangga, dengan sebuah lilin menyala di tangannya, dia tidak dapat menahan dorongan untuk berbalik di ujung tangga dan berbicara kepada para kawan yang berkumpul untuk menemuinya. Selagi dia berbicara, api semangat dalam dirinya menyala, dan sebelum dia bisa menyelesaikannya, lilin yang dipegangnya telah terbakar hingga habis sampai ke pangkalnya.
Dia masuk ke kamar tidurnya dan tak pernah keluar lagi dalam keadaan hidup. Asma spasmodik yang berat menyerangnya segera setelah dia naik ke tempat tidur, dan sebelum pukul enam keesokan paginya pengkhotbah besar itu telah meninggal. Jika pernah ada seseorang yang siap untuk “perubahan”nya, Whitefield adalah orang itu. Ketika waktunya tiba, dia tidak punya pilihan apa pun selain mati.
Di tempat dia meninggal, di sanalah dia dimakamkan, di sebuah ruangan di bawah mimbar gereja tempat dia melayani untuk berkhotbah. Makamnya masih diperlihatkan sampai hari ini; dan tidak ada yang membuat kota kecil di mana dia meninggal menjadi begitu terkenal selain fakta bahwa kota itu tersimpan kerangka George Whitefield.
Demikianlah fakta-fakta utama dalam hidup raja penginjil Inggris dari seratus tahun yang lalu. Karakter pribadinya, sejauh mana pengaruhnya yang sesungguhnya serta beberapa kisah tentang gaya berkhotbahnya, adalah hal-hal yang harus saya simpan untuk Bab lain.
Bab 2 – Kesimpulan
Perkiraan tentang kebaikan yang dilakukan Whitefield–Kesaksian-kesaksian pengaruh langsungnya–Kebaikan tidak langsung yang dia kerjakan–Karakter khas dari Khotbahnya –Saksi-saksi atas kuasa sesungguhnya sebagai pengkhotbah–Analisa atas tujuh puluh lima Khotbahnya yang diterbitkan–kesederhanaannya, keterusterangan, kemampuan penggambaran, kesungguhan, kemampuan untuk membangkitkan emosi pendengar, gerak-gerik, gaya penyampaian, dan kefasihan, keunggulan-keunggulan utamanya–kehidupan batin, kerendahan hati, kasih kepada Kristus, kerja kerasnya, penyangkalan dirinya, ketidakberpihakannya kepada kepentingan pribadi, keceriaan, keluasan hatinya terhadap semua denominasi–contoh dari khotbahnya.
Perkiraan Kebaikan yang Telah Whitefield Kerjakan
GEORGE WHITEFIELD dalam penilaian saya, adalah yang paling utama dan pertama di antara para Reformator Inggris di abad terakhir, sehingga saya tidak perlu membela diri karena membeberkan informasi lebih jauh tentangnya. Jumlah sebenarnya dari kebaikan yang dia kerjakan, karakter khas dari khotbahnya, karakter pribadinya, semuanya merupakan poin-poin yang layak dipertimbangkan. Saya dapat katakan, poin-poin tersebut banyak disalahpahami.
Kesalahpahaman ini mungkin tidak dapat dihindari dan tidak semestinya mengejutkan kita. Bahan untuk membentuk opini yang tepat mengenai seseorang seperti Whitefield tentunya sangat jarang ditemui. Dia tidak menulis buku untuk sejuta orang, yang terkenal di seluruh
dunia seperti “Pilgrim’s Progress” karya Bunyan. Dia tidak memimpin perang suci melawan sebuah Gereja yang menyimpang dengan dukungan sebuah bangsa di belakangnya dan raja-raja di sisinya, seperti Martin Luther. Dia tidak membentuk denominasi agama yang mendasarkan imannya kepada tulisan-tulisannya dan mengabadikan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan terbaiknya seperti John Wesley.
Ada para penganut Lutheran dan penganut Wesleyan pada masa kini, tetapi tidak ada penganut Whitefieldite. Tidak! Sang penginjil besar abad terakhir itu adalah orang yang sederhana dan tulus, yang hanya hidup untuk satu hal, yaitu untuk memberitakan Kristus. Jika dia telah melakukan itu, dia tidak peduli tentang apa pun yang lain. Catatan tentang orang yang seperti itu banyak dan penuh di surga, saya tidak ragu. Namun mereka sangatlah sedikit dan langka di Bumi.
Selain ini, kita tidak boleh melupakan bahwa, banyak orang di setiap zaman tidak melihat apapun pada orang seperti Whitefield selain fanatisme dan antusiasme yang berlebihan. Mereka membenci setiap hal seperti “semangat yang berapi-api” dalam beragama. Mereka tidak menyukai siapa pun yang memutarbalikkan dunia, dan berbeda dari cara-cara tradisional yang lama, dan yang tidak mau membiarkan si iblis merajalela.
Orang-orang demikian tidak diragukan lagi akan mengatakan kepada kita bahwa pelayanan Whitefield hanya menghasilkan kegembiraan sesaat, bahwa khotbahnya sekadar ocehan biasa, dan bahwa karakternya tidak ada sesuatu yang istimewa yang layak untuk dikagumi. Mungkin saja, seribu delapan ratus tahun yang lalu mereka akan mengatakan hal yang sama tentang Rasul Paulus.
Pertanyaan “Kebaikan apakah yang telah Whitefield kerjakan?” adalah pertanyaan yang saya jawab tanpa ragu sedikit pun. Saya percaya bahwa kebaikan langsung yang dikerjakan terhadap jiwa-jiwa kekal sangatlah besar. Saya akan melangkah lebih jauh,–saya percaya tak dapat dihitung. Saksi-saksi yang bisa dipercaya di Inggris, Skotlandia, dan Amerika, telah mencatat keyakinan mereka bahwa dialah alat untuk mengubah ribuan orang. Banyak orang, di mana pun dia berkhotbah, tidak hanya senang, tersentuh, dan tertarik, tetapi secara positif berpaling dari dosa, dan dijadikan hamba Tuhan yang sungguh-sungguh.
“Menghitung jumlah orang,” saya tidak lupa, selalu merupakan suatu tindakan yang tidak pantas. Hanya Tuhan yang dapat membaca hati dan membedakan gandum dari lalang. Banyak orang, tidak diragukan lagi, di hari-hari bersemangat beragama, dianggap sebagai orang yang bertobat padahal mereka sama sekali belum bertobat. Tetapi saya berharap para pembaca saya mengerti bahwa penilaian tinggi saya tentang manfaat Whitefield berdasarkan pada dasar yang kuat. Saya mohon mereka perhatikan baik-baik apa yang orang-orang sezaman dengan Whitefield pikirkan tentang nilai dari pelayanannya.
Kesaksian-Kesaksian tentang Pengaruh Langsungnya
Franklin, filsuf Amerika yang terkenal itu, adalah seseorang yang dingin, penuh perhitungan, seorang Quaker menurut pengakuannya, dan bukan seseorang yang memberikan penilaian yang terlalu tinggi terhadap pekerjaan hamba Tuhan mana pun. Tetapi bahkan dia mengakui bahwa “sangat mengagumkan untuk melihat perubahan yang segera terjadi disebabkan oleh khotbah-khotbahnya terhadap perilaku para penduduk Philadelphia.
Dari yang sebelumnya tidak memikirkan atau tidak peduli tentang agama, seakan-akan seperti seluruh dunia menjadi semakin religius.” Franklin sendiri, patut dicatat, adalah pencetak utama karya-karya kekristenan di Philadelphia; dan kesediaannya untuk mencetak khotbah-khotbah dan jurnal-jurnal Whitefield menunjukkan penilaiannya terhadap pengaruh yang dimilikinya terhadap pikiran rakyat Amerika.
Maclaurin, Willison, dan Macculloch, adalah hamba-hamba Tuhan Skotlandia yang namanya sangat terkenal di utara sungai Tweed, dan yang mana dua orang pertama pantas mendapat peringkat tinggi sebagai penulis teologi. Mereka semua telah berulang kali bersaksi bahwa Whitefield dijadikan alat Tuhan untuk mendatangkan kebaikan yang besar di Skotlandia. Willison secara khusus mengatakan, “bahwa Tuhan menganugerahinya dengan keberhasilan yang menakjubkan di antara orang berdosa dari segala kalangan dan keyakinan.”
Henry Venn yang sudah berumur, dari Huddersfield dan Yelling, adalah orang yang berakal sehat kuat, dan memiliki anugerah rohani yang besar. Dia berpendapat, bahwa “jika kebesaran, cakupan, keberhasilan, dan ketidakberpihakan kepada kepentingan pribadi pelayanan seseorang dapat memberikannya keistimewaan di antara anak-anak Kristus, maka kita dapat menegaskan bahwa hampir tidak ada yang menandingi Tuan Whitefield.”
Kemudian dia berkata: “Dia sangat berhasil dalam pelayanannya yang luar biasa besar. Saya yakin, buah-buah pelayanannya, dari awal sampai akhir, lebih banyak daripada yang dapat dihitung jika jumlahnya dapat dipastikan. Yang tentu, popularitasnya yang menakjubkan hanyalah berasal dari bagaimana dia dipakai; karena begitu dia membuka mulutnya sebagai seorang pengkhotbah, Tuhan mencurahkan berkat yang luar biasa atas kata-katanya.”
John Newton adalah orang yang cerdik, serta seorang pelayan Injil yang terkemuka. Kesaksiannya adalah: “Yang menyempurnakan karakter Tuan Whitefield sebagai cahaya yang bersinar, dan kini menjadi mahkota sukacitanya, adalah keberhasilan luar biasa yang Tuhan berkenan untuk berikan kepadanya dalam memenangkan jiwa. Tampaknya seolah-olah dia tidak pernah berkhotbah dengan sia-sia. Mungkin hampir tidak ada satu tempat pun di seluruh cakupan pelayanannya yang luas di mana tidak ditemukan beberapa orang yang dengan bersyukur mengakuinya sebagai bapa rohani mereka.”
John Wesley tidak sependapat dengan Whitefield mengenai beberapa poin teologis yang tidak sepele. Tetapi, ketika dia menyampaikan khotbah pemakamannya, dia berkata: “Pernahkah kita baca atau dengar tentang seseorang yang memanggil beribu-ribu, berjuta-juta orang berdosa untuk bertobat? Terlebih lagi, pernahkah kita baca atau dengar seseorang yang telah menjadi alat yang diberkati untuk membawa begitu banyak orang berdosa dari gelap menuju terang, dan dari kuasa Setan kepada Tuhan?”
Kebaikan Tidak Langsung yang Dilakukan
Meskipun kesaksian-kesaksian ini berharga, ada satu hal yang tidak disinggung sama sekali. Yaitu jumlah kebaikan tidak langsung yang Whitefield lakukan.
Meskipun dampak langsung dari pelayanannya begitu besar, saya sungguh yakin dampak tidak langsungnya bahkan lebih besar lagi. Pelayanannya menjadi berkat bagi ribuan orang yang mungkin tidak pernah melihat atau mendengarnya.
Dia ada di antara yang pertama di abad ke-18 yang membangkitkan kembali perhatian terhadap kebenaran-kebenaran lama yang melahirkan Reformasi Protestan. Penegasannya yang terus-menerus terhadap doktrin-doktrin yang diajarkan oleh para Reformator, rujukannya yang berulang-ulang terhadap Artikel-Artikel dan Khotbah-Khotbah, serta Teologi para teolog Inggris terbaik, mengharuskan banyak orang untuk berpikir, dan membangunkan mereka untuk menguji prinsip-prinsip mereka masing-masing.
Jika seluruh kebenarannya diketahui, saya percaya itu akan membuktikan bahwa kebangkitan dan kemajuan kelompok Injili di Gereja Inggris menerima dorongan besar dari George Whitefield. Namun ini bukan satu-satunya kebaikan tidak langsung yang dilakukan Whitefield di zamannya. Dia adalah salah satu yang pertama yang menunjukkan cara yang tepat untuk menghadapi serangan orang-orang tidak percaya dan orang-orang skeptis terhadap Kekristenan. Dia melihat dengan jelas bahwa senjata paling ampuh untuk melawan orang-orang ini bukanlah argumen-argumen metafisik yang dingin dan diskusi analisa kritis yang kering, tetapi memberitakan seluruh Injil–menghidupi seluruh Injil–dan menyebarkan seluruh Injil.
Bukanlah tulisan-tulisan Leland, Sherlock yang lebih muda, Waterland, dan Leslie yang berhasil melawan arus ketidakpercayaan, separuh sebanyak khotbah Whitefield dan rekan-rekannya. Mereka adalah para pahlawan sejati Kekristenan. Orang-orang tidak percaya jarang tergerak oleh argumentasi abstrak belaka. Argumen-argumen yang paling meyakinkan untuk melawan mereka adalah kebenaran Injil dan Injil yang dihidupi.
Di atas segalanya, dialah orang Inggris yang paling pertama yang sepertinya telah memahami seluruhnya apa yang Dr. Chalmers deskripsikan secara tepat sebagai “sistem agresif”. Dialah yang pertama yang melihat bahwa para hamba Kristus harus melakukan pekerjaan nelayan. Mereka tidak boleh menunggu untuk jiwa-jiwa datang kepada mereka, tetapi harus mengejar jiwa-jiwa, dan “memaksa mereka untuk masuk.” Dia tidak duduk diam di samping perapian, seperti seekor kucing di hari hujan, meratapi kejahatan negerinya.
Dia maju menantang iblis langsung di tempat-tempat kekuasaannya. Dia menyerang dosa dan kejahatan secara langsung, dan tidak memberikannya ketenteraman. Dia terjun ke dalam lubang-lubang dan sudut-sudut untuk mengejar para orang berdosa. Dia memburu dosa dan kejahatan di mana pun dapat ditemukan. Singkat cerita, dia memulai suatu sistem pekerjaan yang hingga zamannya, relatif tidak pernah diketahui di negara ini, tetapi sistem, yang sekalinya dimulai, tidak pernah berhenti diterapkan sampai hari ini.
Misi-misi kota besar, misi-misi kota kecil, komunitas-komunitas kunjungan ke daerah, khotbah-khotbah ruang terbuka, misi-misi kunjungan rumah, kebaktian-kebaktian khusus, khotbah-khotbah di teater, semuanya adalah tanda bahwa nilai dari “sistem agresif” sekarang telah sepenuhnya diterapkan oleh semua Gereja. Kita lebih memahami cara pelayanan sekarang daripada seratus tahun yang lalu. Tetapi, janganlah kita melupakan bahwa orang pertama yang memulai pelayanan semacam ini adalah George Whitefield, dan mari beri penghargaan yang layak baginya.

Karakter Khas dari Khotbahnya
Karakter khas khotbah Whitefield adalah pokok bahasan yang selanjutnya harus dipertimbangkan. Orang tentu ingin tahu apa rahasia keberhasilannya yang tak tertandingi. Pokok bahasan ini dikelilingi oleh kesulitan yang cukup banyak, dan bukanlah hal yang mudah untuk membentuk penilaian yang tepat tentangnya. Pendapat umum banyak orang, bahwa dia hanyalah seorang Metodis biasa yang berteriak-teriak, yang terkenal bukan karena apa-apa selain kefasihan hebat, doktrin yang kuat, dan suara yang lantang, tidak akan bertahan diuji sedikit pun.
Dr. Johnson begitu keliru sehingga berkata, “dia berteriak-teriak dengan keras dan membuat sebuah kesan, namun tidak pernah menarik perhatian sebesar yang dilakukan seorang penjual obat palsu; dan dia tidak menarik perhatian dengan melakukan lebih baik daripada yang lain, melainkan dengan melakukan apa yang tidak biasa.” Tetapi Johnson sangatlah jauh dari tidak bisa salah ketika dia mulai berbicara tentang hamba Tuhan dan Kekristenan. Teori seperti itu tidak akan dapat dipertahankan. Itu bertentangan dengan fakta-fakta yang tak terbantahkan.
Faktanya, tidak ada pengkhotbah di Inggris yang pernah berhasil mengambil perhatian kerumunan sebesar yang Whitefield lakukan dengan konsisten di sekitar London. Tidak ada pengkhotbah yang pernah menjadi begitu terkenal di setiap negara yang dikunjungi, di Inggris, Skotlandia, dan Amerika. Tidak ada pengkhotbah yang pernah mempertahankan pengaruh pada para pendengarnya sedemikian kuat seperti yang dia pertahankan selama tiga puluh empat tahun.
Kepopulerannya tidak pernah memudar. Tetap sama di akhir masa pelayanannya sebesar pada awalnya. Di mana pun dia berkhotbah, orang-orang akan meninggalkan toko mereka, dan pekerjaan mereka untuk berkumpul di sekelilingnya, dan mendengar seakan-akan untuk kekekalan. Ini sendiri merupakan fakta yang besar. Untuk mempengaruhi “massa” selama seperempat abad, dan untuk berkhotbah tanpa henti sepanjang waktu itu, adalah sebuah bukti dari kuasa yang luar biasa.
Saksi-Saksi akan Kuasa Nyatanya sebagai Seorang Pengkhotbah
Adalah sebuah fakta lain bahwa khotbah Whitefield menghasilkan dampak yang kuat pada orang-orang di setiap lapisan masyarakat. Dia memenangkan kekaguman kalangan atas maupun bawah, dari orang-orang kaya maupun miskin, dari orang-orang terpelajar maupun yang tidak terpelajar. Jika khotbahnya hanya populer di kalangan orang-orang yang tidak berpendidikan dan orang-orang miskin, kita bisa saja menganggap bahwa tidak banyak di dalamnya selain ceramah dan kebisingan. Namun, faktanya sangatlah jauh dari demikian, dia tampaknya dapat diterima oleh kaum bangsawan dan kalangan terpandang.
Marquis of Lothian, Earl of Leven, Earl of Buchan, Lord Rae, Lord Darthmouth, Lord James A. Gordon, bisa disebutkan di antara pengagum terbesarnya, selain Lady Huntingdon dan sejumlah besar wanita.
Adalah sebuah fakta bahwa para kritikus dan sastrawan terkemuka, seperti Lord Bolingbroke dan Lord Chesterfield, adalah pendengar rutinnya yang menyukainya. Bahkan Chesterfield yang dingin dan penuh kepura-puraan pun diketahui menghangat di bawah kefasihan berbicara Whitefield. Bolingbroke berkata, “Dia adalah orang paling luar biasa di zaman kita. Dia memiliki kefasihan yang paling hebat yang pernah saya dengar dimiliki oleh siapapun.” Franklin sang filsuf berbicara tanpa ragu tentang kuasa berkhotbahnya. Hume sang sejarawan menyatakan bahwa adalah hal yang layak untuk menempuh jarak dua puluh mil untuk mendengarkannya.
Sekarang, fakta-fakta demikian tidak bisa disepelekan. Fakta-fakta seperti itu sepenuhnya mematahkan teori bahwa khotbah Whitefield bukanlah apa-apa selain suara berisik dan teriak-teriak belaka. Bolingbroke, Chesterfield, Hume, dan Franklin, bukanlah orang-orang yang mudah tertipu. Mereka bukanlah penilai kefasihan yang buruk. Mereka mungkin termasuk di antara para kritikus terbaik yang paling berkualifikasi pada zaman mereka.
Pendapat mereka yang tidak bias dan tidak memihak tampaknya memberikan bukti yang tidak terbantahkan bahwa pasti ada sesuatu yang sangat luar biasa tentang khotbah Whitefield. Namun tetap, pertanyaannya belum terjawab, apa rahasia popularitas dan efektivitas Whitefield yang tidak tertandingi? Dan dengan jujur saya akui bahwa, dengan sedikitnya bahan yang kita miliki untuk membentuk penilaian kita, pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab.
Analisa dari Tujuh Puluh Lima Khotbahnya yang Diterbitkan
Orang yang membaca tujuh puluh lima khotbah yang diterbitkan atas nama Whitefield mungkin akan sangat kecewa. Dia tidak akan menemukan di dalamnya intelek yang hebat atau wawasan luas. Dia tidak akan menemukan di dalamnya filosofi yang mendalam, dan pemikiran yang mencolok. Bagaimana pun, wajar untuk dikatakan bahwa sebagian besar khotbah ini dicatat dalam bentuk yang dipersingkat oleh para wartawan, dan diterbitkan tanpa koreksi.
Orang-orang berjasa ini tampaknya telah melakukan pekerjaan mereka dengan sangat tak acuh, dan jelas tidak tahu tentang cara penggunaan tanda baca, pembagian paragraf, tata bahasa, atau penyusunan kalimat Injil. Akibatnya, banyak bagian dalam tujuh puluh lima khotbah ini yang mungkin disebut oleh Uskup Latimer sebagai “berantakan,” dan apa yang zaman ini layak kita sebut sebagai “kacau total.”
Tidak heran Whitefield yang malang berkata, dalam salah satu surat terakhirnya, tanggal 26 September 1769, “ Aku minta khotbah terakhirku tidak dipublikasi. Itu tidak persis sebagaimana aku menyampaikannya. Di beberapa tempat, itu membuat aku seolah-olah berbicara dengan tata bahasa yang salah, dan bahkan omong kosong. Di tempat lain makna dan koneksinya dihancurkan oleh paragraf-paragraf yang buruk dan terputus-putus, dan secara keseluruhan sama sekali tidak layak untuk dikonsumsi publik.”
Bagaimana pun, saya berani tanpa ragu mengatakan bahwa dengan segala kekurangannya, khotbah-khotbah Whitefield yang dicetak akan banyak menguntungkan untuk penelaahan yang jujur dan seksama. Pembaca harus mengingat bahwa khotbah-khotbahnya bukan dengan teliti dipersiapkan untuk dicetak, seperti khotbah-khotbah Melville atau Bradley, tetapi dicatat dalam bentuk paragraf-paragraf serta dipotong dengan buruk, dan dia harus membaca dengan terus sadar akan hal ini.
Selain itu, dia harus ingat bahwa komposisi bahasa Inggris untuk berbicara kepada pendengar, dan komposisi bahasa Inggris untuk bacaan pribadi, hampir seperti dua bahasa yang berbeda, jadi khotbah-khotbah yang dengan baik di“khotbah”kan di”baca” dengan buruk. Pendapat saya, biarkan dia ingat akan dua hal ini dan menilai dengan semestinya, dan saya akan sangat keliru jika dia tidak menemukan banyak hal untuk dikagumi dalam banyak khotbah Whitefield. Bagi saya pribadi, saya harus berkata dengan tegas bahwa saya pikir khotbah-khotbahnya dinilai terlalu rendah.
Sekarang biarkan saya tunjukkan apa saja yang nampaknya menjadi ciri-ciri khas dari khotbah Whitefield.
Kesederhanaan, Keterusterangan, Kemampuan Deskripsi, Ketulusan, Kemampuan untuk Membangkitkan Perasaan Para Pendengarnya, Gerak-gerik, Gaya Penyampaian, dan Kefasihan, Keunggulan-keunggulan Utamanya
Untuk satu hal, Whitefield hanya mengkhotbahkan Injil yang murni. Mungkin sedikit orang yang memberi pendengarnya begitu banyak gandum dan sedikit sekam. Dia tidak berdiri untuk berbicara mengenai kubunya, tujuannya sendiri, minatnya atau jabatannya. Dia terus-menerus memberi tahu Anda tentang dosa-dosa Anda, hati Anda, Yesus Kristus, Roh Kudus, kebutuhan yang mutlak akan pertobatan, iman, dan kekudusan, sebagaimana Alkitab menyampaikan subjek-subjek besar ini.
“Oh, kebenaran Yesus Kristus!” Dia sering katakan; “Aku harus diperbolehkan untuk menyebutkannya di hampir semua khotbahku.” Khotbah semacam ini adalah khotbah yang Allah berkenan untuk hargai. Itu adalah pernyataan kebenaran yang utama.
Selain itu, khotbah Whitefield sangatlah jelas dan sederhana. Para pendengarnya, apapun pendapat mereka tentang doktrinnya, tidak mungkin gagal memahami apa yang dia maksud. Gaya bicaranya santai, sederhana, dan menggunakan bahasa sehari-hari. Dia tampaknya tidak menyukai kalimat-kalimat yang panjang dan rumit. Dia selalu mengetahui sasarannya, dan langsung mengarah kepadanya. Dia jarang menyulitkan para pendengarnya dengan argumen yang sulit untuk dipahami dan penalaran yang rumit.
Pernyataan-pernyataan Alkitab sederhana, ilustrasi yang tepat, dan kisah-kisah lucu yang relevan adalah senjata-senjata yang sering dia gunakan. Hasilnya adalah para pendengarnya selalu memahaminya. Dia tidak pernah bicara di atas kemampuan pengertian mereka. Di sinilah lagi letaknya unsur besar dari keberhasilan seorang pengkhotbah. Dia harus berusaha dengan segala cara untuk dapat dimengerti. Pepatah bijak dari Uskup Agung Usher mengatakan, “Membuat hal-hal yang mudah tampak sulit adalah pekerjaan setiap orang; tetapi untuk membuat hal-hal yang sulit menjadi mudah adalah pekerjaan seorang pengkhotbah besar.”
Selain itu, Whitefield adalah seorang pengkhotbah yang sangat berani dan terus terang. Dia tidak pernah memakai ungkapan ambigu itu “kita,” yang nampaknya sangat khas dalam khotbah mimbar Gereja Inggris, dan yang hanya menempatkan pikiran pendengarnya dalam kebingungan yang tak menentu. Dia menghadapi langsung orang-orang seperti seseorang yang memiliki pesan dari Tuhan untuk mereka, “Aku datang ke sini untuk berbicara kepadamu tentang jiwamu.”
Hasilnya adalah banyak dari para pendengarnya yang sering berpikir seakan-akan khotbah-khotbahnya ditujukan secara khusus untuk mereka. Dia tidak seperti banyak orang yang puas dengan hanya menempelkan sedikit penerapan singkat di akhir khotbah yang panjang. Sebaliknya, khotbahnya selalu mengandung unsur penerapan yang terus mengalir. “Ini untukmu, dan ini untukmu.” Para pendengarnya tidak pernah dibiarkan sendirian.
Ciri mencolok lain dalam khotbah Whitefield adalah kemampuannya yang luar biasa dalam mendeskripsikan. Orang Arab memiliki pepatah bijak yang mengatakan, “Pembicara terbaik adalah orang yang dapat mengubah telinga orang menjadi mata.” Whitefield nampaknya memiliki kemampuan unik dalam melakukan hal ini. Dia mendramatisasi pokok bahasannya dengan sangat seksama sehingga tampak bergerak dan berjalan di hadapan mata Anda. Dia memberi gambaran yang begitu jelas akan hal-hal yang sedang dia tangani, sehingga para pendengarnya dapat mempercayai bahwa mereka sungguh-sungguh melihat dan mendengarnya.
“Dalam suatu kesempatan,” kata salah seorang dari para penulis biografinya, “Lord Chesterfield ada di antara para pendengarnya. Sang pengkhotbah besar itu, dalam menggambarkan kondisi menyedihkan seorang pendosa yang belum bertobat, mengilustrasikan pokok bahasan tersebut dengan gambaran pengemis yang buta. Malam itu gelap, dan jalan berbahaya. Pengemis yang malang itu ditinggalkan oleh anjingnya di dekat tepi tebing, dan tidak ada yang membantunya meraba-raba jalan selain tongkatnya.
Whitefield begitu bersemangat dengan pokok bahasannya, dan menyampaikannya dengan kekuatan penggambaran demikian, sehingga seluruh pendengar terdiam menahan nafas, seolah-olah melihat gerakan orang tua malang itu; dan akhirnya, ketika pengemis itu hendak mengambil langkah fatal yang akan menghempasnya ke dasar tebing menuju kematian, Lord Chesterfield benar-benar bergegas maju untuk menyelamatkannya, sambil berseru keras, Dia mati! Dia mati!’ Bangsawan terhormat itu begitu terbawa oleh pengkhotbah itu, sehingga dia lupa bahwa semuanya itu merupakan sebuah kiasan.”
Karakteristik utama lain khotbah Whitefield adalah kesungguhannya yang luar biasa. Seseorang yang miskin dan tidak berpendidikan berkata tentangnya, bahwa “dia berkhotbah seperti singa.” Dia berhasil memperlihatkan kepada orang-orang bahwa setidaknya dia mempercayai semua yang dia katakan, dan bahwa hati, jiwa, pikiran, dan kekuatannya, bertekad untuk membuat mereka percayainya juga. Khotbah-khotbahnya tidak seperti tembakan meriam pagi dan sore di Portsmouth, semacam tembakan formal, yang ditembakkan secara rutin, yang tidak mengganggu siapapun. Seluruh khotbah-khotbahnya penuh hidup dan api.
Tidak ada jalan keluar dari padanya. Tidur hampirlah mustahil. Suka atau tidak, Anda harus mendengarkannya. Ada kekerasan suci dalam dirinya yang benar-benar merebut perhatian Anda dengan kuat. Anda terseret oleh energinya sebelum Anda sempat memikirkan apa yang akan Anda lakukan.
Ini, kita bisa yakini adalah salah satu rahasia keberhasilannya. Kita harus meyakinkan orang-orang bahwa kita sendiri sungguh-sungguh, jika kita ingin dipercaya. Perbedaan antara satu pengkhotbah dengan yang lainnya, sering kali tidak terletak pada hal-hal yang disampaikan, melainkan pada cara menyampaikannya.
Dicatat oleh salah satu penulis biografinya bahwa seorang pria Amerika pernah pergi mendengarkannya, untuk pertama kalinya, setelah mendengar laporan tentang kuasa khotbahnya. Hari itu hujan, jemaatnya relatif sedikit, dan awal khotbahnya agak berat. Pria Amerika itu mulai berkata kepada dirinya sendiri; “Orang ini ternyata tidak terlalu mengagumkan seperti yang orang katakan.” Dia melihat sekitar, dan melihat jemaat sama tidak tertarik seperti dirinya.
Seorang pria tua di kursi barisan depan tertidur. Namun tiba-tiba Whitefield berhenti seketika. Raut wajahnya berubah. Lalu tiba-tiba dia berkata dengan nada yang berbeda: “Jika aku datang untuk berbicara kepadamu dalam namaku sendiri, kau bisa meletakkan siku di atas lututmu, dan kepala di atas tanganmu, lalu tidur; dan sesekali mendongak, dan berkata ‘Apa yang dibicarakan si pengoceh ini?’ Namun aku tidak datang kepadamu atas namaku sendiri.
Tidak! Aku datang kepadamu dalam Nama Tuhan Semesta Alam” (di sini dia menghentakkan tangan dan kakinya dengan kuat sehingga membuat bangunan itu bergema), “dan aku harus, dan akan didengar.” Jemaat tersentak. Pria tua itu bangun seketika. “Ya, ya!” teriak Whitefield, memfokuskan matanya kepada dia, “Aku telah membangunkanmu ya?
Aku bermaksud melakukannya. Aku tidak datang ke sini untuk berkhotbah kepada benda mati: Aku datang kepadamu dalam nama Tuhan Allah Semesta Alam, dan aku harus, dan akan, mendapat pendengar.” Para pendengar seketika terlucuti dari ketidakpedulian mereka. Setiap kata khotbah itu setelah ini didengar dengan penuh perhatian, dan pria Amerika itu tidak pernah melupakannya.
Satu lagi ciri khotbah Whitefield yang layak mendapatkan perhatian khusus; yakni, besarnya kemampuannya untuk membangkitkan emosi pendengar dan perasaan yang selalu terkandung di dalamnya. Bukan hal yang jarang baginya untuk menangis bercucuran air mata di mimbar.
Cornelius Winter, yang sering menemaninya dalam perjalanan-perjalanan terakhirnya, bahkan mengatakan dia hampir tidak pernah melihat Whitefield menyelesaikan khotbah tanpa air mata. Tampaknya tidak ada yang dibuat-buat dalamnya. Dia memiliki perasaan yang kuat akan jiwa-jiwa di hadapannya, dan perasaannya itu tersalurkan dalam air mata.
Dari semua unsur keberhasilannya dalam berkhotbah, aku menduga tidak ada yang sekuat ini. Hal itu membangkitkan perasaan dan menyentuh batin terdalam manusia, yang tidak dapat digerakkan oleh penalaran dan pembuktian sebanyak apa pun. Hal itu meredakan prasangka yang banyak orang tujukan kepadanya.
Mereka tidak bisa membenci orang yang begitu banyak menangisi jiwa mereka. “Aku datang untuk mendengarkanmu,” kata seseorang kepadanya,” dengan kantongku penuh batu, bermaksud untuk menghancurkan kepalamu; tetapi khotbahmu mengalahkanku, dan menghancurkan hatiku.” Begitu diyakinkan seseorang mengasihi Anda, Anda akan dengan senang hati mendengarkan apapun yang dia katakan.
Sekarang saya meminta pembaca untuk menambahkan pada analisa khotbah Whitefield ini, bahwa memang secara alamiah dia memiliki beberapa bakat yang paling langka yang memampukan seseorang untuk menjadi seorang orator. Gerak-geriknya sempurna–begitu sempurnanya sehingga bahkan Garrick, sang aktor terkenal, memberikannya pujian penuh. Suaranya sama indahnya seperti gerakannya–begitu kuat sehingga dia mampu membuat tiga puluh ribu orang mendengarnya secara bersamaan, namun begitu merdu dan bernada indah sehingga beberapa orang mengatakan dia mampu membuat orang meneteskan air mata dengan pengucapannya akan kata “Mesopotamia.”
Sikapnya di mimbar begitu luar biasa anggun dan mempesonanya sehingga konon tidak seorang pun dapat mendengarnya selama lima menit tanpa tidak menyadari dirinya menyipitkan mata. Kefasihan dan penguasaan akan bahasa yang tepat yang dia miliki berada di tingkat paling tinggi, memampukannya untuk selalu menggunakan kata yang tepat dan meletakkannya di tempat yang tepat. Tambahkan, saya ulangi, talenta-talenta ini pada hal-hal yang telah disebutkan, dan pertimbangkan apakah tidak cukup bagi kita untuk memperkirakan kuasa dan kepopulerannya sebagai seorang pengkhotbah.
Bagi saya pribadi, saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa saya percaya tidak pernah ada pengkhotbah Inggris yang memiliki kombinasi mutu sebaik Whitefield. Beberapa, tidak diragukan, telah melebihinya dalam beberapa talentanya; yang lain, mungkin telah menandinginya dalam talenta-talentanya yang lain. Tetapi untuk kombinasi yang baik dan seimbang dari beberapa talenta terbaik yang dapat dimiliki seorang pengkhotbah, digabungkan dengan suara, sikap, cara penyampaian, gerakan, dan penguasaan bahasa yang tak tertandingi, Whitefield, saya ulangi pendapat saya, tidak ada tandingannya.
Saya percaya tidak ada orang Inggris, baik hidup maupun mati, yang pernah menandinginya. Dan saya kira kita akan selalu menemukan bahwa, sejauh mana pengkhotbah-pengkhotbah mendekati kombinasi talenta-talenta langka yang Whitefield miliki itu, sebanding itu pula telah mereka capai apa yang Clarendon definisikan sebagai kefasihan sejati–”kuasa unik untuk membuat diri mereka dipercaya.”
Kehidupan Batin, Kerendahaan Hati, Kasih Kepada Kristus, Kerja Keras, Penyangkalan Diri, Ketidakberpihakannya Terhadap Kepentingan Pribadi, Kegembiraan, Keluasan Hatinya Terhadap Semua Denominasi
Kehidupan batin dan karakter pribadi pahlawan rohani besar abad terakhir ini merupakan bagian dari pokok bahasan saya yang saya tidak akan bahas panjang lebar. Sesungguhnya, tidak perlu dilakukan. Dia adalah orang yang sangat transparan. Tidak ada yang perlu dibela atau dijelaskan. Kekurangan-kekurangan dan sifat-sifat baiknya terlihat jelas dan terang benderang seperti siang hari.
Maka saya akan mencukupkan diri saya dengan hanya menunjukkan ciri-ciri menonjol dari karakternya, sejauh yang bisa didapat dari surat-suratnya dan kesaksian orang sezamannya, lalu kemudian menutup gambaran singkat saya tentangnya.
Dia adalah seseorang dengan kerendahan hati yang mendalam dan tidak berpura-pura. Tidak seorang pun dapat membaca seribu empat ratus suratnya, yang diterbitkan oleh Dr. Gillies, tanpa memperhatikan hal itu. Lagi dan lagi, di puncak tertinggi kepopulerannya, kita mendapatinya berbicara tentang dirinya dan pekerjaannya dalam istilah-istilah terendah. “Tuhan berbelas kasihanlah kepadaku seorang pendosa,” tulisnya pada tanggal 17 September 1753, “dan beri aku, demi belas kasihan-Nya yang tak terbatas, hati yang rendah, bersyukur, dan pasrah.
Sungguh. Aku lebih buruk dari orang yang terburuk, dan aku sangat takjub Ia mempekerjakan orang hina sepertiku.” “Jangan biarkan seorang pun dari teman-temanku,” tulisnya pada tanggal 27 Desember 1753, “berseru kepada seekor cacing yang malas, suam-suam kuku, dan tak berguna yang seperti ini untuk tidak memaksakan diri. Sebaliknya, paculah aku, aku mohon kepadamu, dengan sebuah seruan “Bangun, hai kamu yang sedang tidur, dan mulailah lakukan sesuatu untuk Tuhanmu.” Bahasa seperti ini, tidak diragukan tampak seperti kebodohan dan kepura-puraan kepada dunia; tetapi pembaca Alkitab yang terpelajar akan melihat di dalamnya pengalaman tulus dari semua orang kudus terbaik.
Itu merupakan bahasa orang-orang seperti Baxter, Brainerd, dan M’Cheyne. Itu adalah pikiran yang sama yang ada dalam diri Rasul Paulus yang diinspirasi Roh Kudus. Mereka yang memiliki terang dan karunia yang terbanyak selalu adalah orang-orang yang paling rendah hati.
Dia adalah orang dengan kasih yang berkobar-kobar kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Nama itu yang ada “di atas segala nama” terus-menerus muncul dalam semua suratnya. Seperti minyak urapan yang harum, Nama itu memberikan aroma kepada semua tulisannya. Dia tampaknya tidak pernah lelah mengatakan sesuatu tentang Yesus. “Tuhanku,” seperti kata George Herbert, tidak pernah jauh dari pikirannya.
Kasih-Nya, penebusan-Nya, darah-Nya yang sangat berharga, kebenaran-Nya, kesiapsediaan-Nya untuk menerima orang berdosa, perlakuan-Nya yang sabar dan lemah-lembut terhadap para orang kudus, adalah tema-tema yang selalu muncul segar di hadapan matanya. Dalam hal ini, setidaknya, ada kemiripan yang unik antara dia dengan pendeta Skotlandia besar itu, Samuel Rutherford.
Dia adalah orang dengan kerajinan dan kerja keras yang tak kenal lelah mengenai urusan Tuhannya. Mungkin sulit untuk menyebut seseorang dalam catatan sejarah Gereja-gereja yang bekerja begitu kerasnya dan begitu sepenuhnya mengabdikan dirinya dalam pelayanannya. Henry Venn, dalam sebuah khotbah pemakaman untuknya, yang dikhotbahkan di Bath, memberikan kesaksian berikut –“Betapa sebuah tanda dan mukjizat yang ditunjukkan hamba Tuhan ini dalam kebesaran pelayanannya.
Tidak seorang pun bisa tahan untuk tidak kagum bahwa tubuh manusia yang fana ini, dalam kurun waktu hampir tiga puluh tahun, tanpa henti, mampu menanggung beban hal-hal tersebut; karena apa yang lebih menguji tubuh manusia bahkan di masa muda, dibandingkan tekanan keras pada paru-paru yang berlangsung terus-menerus, sering, dan begitu lamanya.
Siapa yang mengenal tubuhnya bisa menyangka mungkin bagi seorang yang sedikit berada di atas usia muda dapat dalam sepekan, dan selama bertahun-tahun–biasanya berbicara selama empat puluh jam, dan dalam banyak pekan enam puluh jam–kepada ribuan orang; dan setelah kerja berat ini, alih-alih beristirahat, masih bisa memanjatkan doa dan syafaat, bersama lagu-lagu himne dan nyanyian rohani, sebagaimana kebiasaannya, di setiap rumah yang mengundangnya?
Kenyataannya, dalam hal pekerjaan, hamba Tuhan yang luar biasa ini mengerjakan sebanyak apa yang kebanyakan orang bisa kerjakan dalam jangka waktu setahun hanya dalam beberapa minggu.
Dia sampai akhir hidupnya adalah seseorang yang terkenal dengan penyangkalan diri yang sungguh-sungguh. Gaya hidupnya sangat sederhana. Dia sangat terkenal karena kesederhanaannya dalam makan dan minum. Sepanjang hidupnya dia adalah orang yang selalu bangun pagi. Dia biasanya bangun pukul empat pagi, baik di musim panas maupun musim dingin; dan juga sama tepat waktunya dia tidur sekitar pukul sepuluh malam.
Seseorang dengan kebiasaan berdoa, dia sering menghabiskan malam-malam untuk membaca dan bersaat teduh. Cornelius Winter, yang sering tidur di kamar yang sama, mengatakan bahwa dia terkadang bangun di malam hari untuk tujuan ini. Dia tidak terlalu peduli akan uang, kecuali sebagai alat untuk kepentingan Kristus, dan menolaknya, saat diberikan untuk kepentingannya sendiri, pernah satu kali hingga sejumlah £7000.
Dia tidak mengumpulkan kekayaan dan tidak mendirikan keluarga kaya. Sedikit uang yang dia tinggalkan pada saat kematiannya sepenuhnya berasal dari pemberian teman-temannya. Ucapan kasar Paus tentang Luther, “Hewan buas Jerman ini tidak mencintai emas,” dapat juga berlaku untuk Whitefield.
Dia adalah seseorang dengan ketidakberpihakan kepada kepentingan pribadi yang luar biasa dan fokus yang tidak terbagi. Dia tampaknya hidup hanya untuk dua hal–kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa. Dia sama sekali tidak memiliki tujuan sampingan dan tersembunyi. Dia tidak membentuk kelompok pengikut yang memakai namanya. Dia tidak membentuk sistem denominasi, yang mana tulisan-tulisannya sendiri menjadi ajaran fundamental. Sebuah ungkapan favoritnya, yang paling khas dari orangnya: “Biarlah nama George Whitefield musnah, selama Kristus ditinggikan.”
Dia adalah seseorang dengan jiwa yang sangat berbahagia dan bersukacita. Tak seorang pun yang melihatnya dapat meragukan bahwa dia menikmati imannya. Meskipun dia diuji dalam banyak hal selama pelayanannya–difitnah oleh sebagian orang, dibenci oleh sebagian lainnya, diputarbalikkan oleh saudara-saudara palsu, dilawan di mana-mana oleh pendeta yang kurang paham pada masanya, diganggu oleh kontroversi yang tiada hentinya–kelenturannya tidak pernah gagal.
Dia adalah orang Kristen yang sungguh-sungguh bersukacita, yang tingkah lakunya saja menggerakkan orang ke dalam pelayanannya kepada Tuhannya. Seorang wanita terhormat dari New York, setelah kematiannya, ketika berbicara tentang pengaruh-pengaruh yang dipakai Roh Kudus untuk memenangkan hatinya kepada Tuhan, menggunakan kata-kata yang menakjubkan ini,–“Tuan Whitefield begitu bersukacita sehingga saya tergoda untuk menjadi seorang Kristen.”
Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, dia adalah orang dengan kedermawanan, keluasan, dan kemurahan hati yang luar biasa dalam beragama. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan picik yang membuat beberapa orang berkhayal bahwa segala sesuatu pasti tandus di luar kelompok mereka sendiri, dan bahwa kelompok mereka sendiri memonopoli total kebenaran dan surga. Dia mengasihi semua orang yang mengasihi Tuhan Yesus Kristus dengan tulus. Dia menilai semua orang dengan ukuran yang para malaikat pakai,–“Apakah mereka menyatakan pertobatan kepada Tuhan, iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus, dan kekudusan hidup?”
Jika ya, mereka seperti saudaranya. Jiwanya ada bersama orang-orang seperti itu, dengan nama apapun mereka disebut. Perbedaan-perbedaan kecil hanyalah kayu, jerami, dan rumput kering baginya. Hanyalah tanda-tanda Tuhan Yesus yang dia pedulikan. Keluasan hati ini lebih menakjubkan ketika semangat zaman dia hidup dipertimbangkan. Bahkan para Erskine bersaudara di Skotlandia, menginginkan dia tidak berkhotbah untuk denominasi lain selain denominasi mereka sendiri–yaitu, Gereja Secession.
Dia bertanya kepada mereka, “Mengapa hanya untuk mereka?”–dan mendapat jawaban yang mengejutkan “mereka adalah umat Tuhan.” Ini lebih dari yang dapat diterima oleh Whitefield. Dia menjawab mereka “jika tidak ada umat Tuhan selain mereka; jika semua yang lain adalah umat iblis, mereka tentunya lebih butuh untuk dikhotbahi;” dan dia mengakhiri dengan berkata kepada mereka,“jika Paus sendiri mau meminjamkan mimbarnya kepadanya, dia akan dengan senang hati memberitakan kebenaran Kristus di atasnya.”
Dia berpegang teguh kepada semangat keluasan hati ini sepanjang hidupnya. Jika orang Kristen lain menyalahartikan dirinya, dia memaafkan mereka; dan jika mereka menolak bekerjasama dengannya, dia tetap mengasihi mereka. Tidak ada bukti yang lebih kuat melawan kesempitan pikiran daripada permintaanya, yang dibuat sesaat sebelum kematiannya, bahwa, ketika dia meninggal, John Wesley yang diminta untuk menyampaikan khotbah pemakamannya.
Wesley dan dia sudah lama berhenti setuju tentang poin-poin Calvinisme; tetapi Whitefield, sampai akhir hidupnya, berketetapan hati untuk melupakan perbedaan-perbedaan kecil, dan menganggap Wesley sebagai Calvin Luther, hanya sebagai hamba Yesus Kristus yang baik.”
Pada kesempatan lain, seorang profesor agama yang suka mengkritik bertanya kepadanya, apakah dia pikir mereka akan melihat John Wesley di surga? “Tidak, Pak,” adalah jawabannya yang mengejutkan; “Saya khawatirkan tidak. Dia akan berada begitu dekat dengan takhta, dan kita akan berada pada jarak yang begitu jauh, sehingga kita akan kesulitan melihatnya.”
Jauh dari maksud saya untuk mengatakan bahwa subjek dari Bab ini adalah seseorang tanpa kelemahan. Seperti semua orang kudus Tuhan, dia adalah makhluk yang tidak sempurna. Dia terkadang salah dalam penilaian. Dia sering kali mengambil kesimpulan yang gegabah tentang pengaturan Tuhan, dan salah mengira kecenderungannya sendiri sebagai pimpinan Tuhan. Dia sering tergesa-gesa baik dengan lidah maupun penanya. Dia tidak berhak untuk mengatakan bahwa “Uskup Agung Tillotson tidak lebih tahu tentang Injil daripada Ma-hornet.”
Dia salah untuk menganggap beberapa orang sebagai musuh Tuhan, dan yang lainnya sebagai sahabat Tuhan dengan begitu tergesa-gesa dan positif seperti yang kadang-kadang dilakukannya. Dia patut disalahkan untuk mengecam banyak pendeta sebagai “orang Farisi yang terpelajar,” karena mereka tidak dapat menerima doktrin kelahiran baru. Namun tetap, setelah semua ini dikatakan, tidak diragukan lagi bahwa pada dasarnya dia adalah orang yang sungguh-sungguh kudus, menyangkal diri, dan konsisten.
“Kelemahan-kelemahan karakternya,” kata seorang penulis Amerika, “adalah bagaikan noda-noda pada matahari–ditemui tanpa banyak kesulitan oleh pengamat yang tenang dan teliti yang bersusah payah untuk mencarinya, tetapi dalam kenyataannya hilang dalam satu pancaran yang menyeluruh dan cemerlang.” Sungguh akan menjadi baik untuk gereja-gereja di zaman kita, jika Tuhan berkenan berikan lebih banyak pendeta-pendeta seperti sang penginjil besar dari Inggris seratus tahun yang lalu!
Yang tertinggal untuk dikatakan hanyalah mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang Whitefield sebaiknya membaca tujuh jilid surat-surat dan terbitan-terbitan lainnya, yang disunting oleh Dr. Gillies pada tahun 1770. Saya sangat keliru jika mereka tidak terkejut
sekaligus senang dengan isinya. Bagi saya, merupakan hal yang mengherankan bahwa, di antara banyaknya cetakan ulang pada abad kesembilan belas, belum ada penerbit yang mencoba untuk mencetak ulang karya-karya George Whitefield secara lengkap.
Contoh dari Khotbahnya
Sebuah kutipan singkat dari penutup khotbah yang disampaikan oleh Whitefield di Kennington Common, mungkin menarik untuk sebagian pembaca, dan dapat memberikan mereka sedikit gambaran tentang gaya pengkhotbah besar tersebut. Itu adalah khotbah tentang ayat, “Apa pendapatmu tentang Kristus?” (Matius 22:42).
“Wahai saudara-saudaraku, hatiku terbuka lebar terhadapmu. Aku yakin aku merasakan sesuatu dari Kristus yang tersembunyi namun berkuasa itu, saat aku berkhotbah kepadamu. Sungguh manis–sangat menghibur. Satu-satunya hal yang kuharapkan bagi bagimu yang tanpa alasan menjadi musuhku, adalah kamu merasakan yang sama. Percayalah, meski akan jadi neraka bagi jiwaku untuk kembali kepada keadaan dulu lagi, tetapi aku rela bertukar keadaan denganmu untuk waktu yang singkat, sehingga engkau dapat mengetahui apa artinya memiliki Kristus tinggal dalam hatimu melalui iman.
Janganlah berpaling. Jangan biarkan iblis menyeretmu pergi. Janganlah takut akan teguran nurani. Jangan anggap ajaran ini lebih rendah hanya karena dikhotbahkan di luar dinding gereja. Tuhan kita, saat menjadi manusia berkhotbah di atas gunung, di atas kapal, dan di ladang; dan aku yakin banyak yang telah merasakan kehadiran-Nya yang penuh anugerah di sini. Sesungguhnya, kami berbicara tentang apa yang kami ketahui. Maka, janganlah menolak kerajaan Allah dan merugikan dirimu sendiri. Berbijaksanalah dan terimalah kesaksian kami.
“Aku tak bisa, takkan membiarkanmu pergi. Tinggallah sebentar, dan marilah kita berbicara. Betapa remeh pun engkau nilai jiwamu, aku tahu Tuhan kita telah menempatkan nilai yang tak bisa diungkapkan atasnya. Ia menganggapnya layak untuk menerima darah-Nya yang paling berharga. Karena itu, maka aku mohon kepadamu, hai orang-orang berdosa, berdamailah dengan Tuhan. Aku harap engkau tidak takut diterima di dalam Sang Terkasih. Lihatlah, Ia mendahuluimu. Lihatlah Ia melindungi, dan menyertaimu dengan belas kasihan-Nya, dan telah mengutus hamba-hamba-Nya ke jalan-jalan dan lorong-lorong untuk memaksamu masuk.
“Maka ingatlah, bahwa pada jam tertentu, di hari tertentu, pada tahun demikian, di tempat ini, engkau diberi tahu apa yang semestinya kau pikirkan mengenai Yesus Kristus. Jika sekarang kalian binasa, itu bukan karena kurang pengetahuan. Aku bebas dari darahmu semua. Engkau tidak dapat berkata aku telah mengkhotbahkan kutukan kepadamu. Engkau tidak bisa mengatakan aku telah, seperti para pengkhotbah legalis, telah menuntutmu untuk membuat batu bata tanpa jerami. Aku tidak menyuruhmu untuk menjadikan dirimu orang-orang kudus dahulu dan baru kemudian datang kepada Tuhan.
Aku telah menawarkan keselamatan kepadamu dengan syarat-syarat semudah yang dapat engkau inginkan. Aku telah menawarkan kepadamu seluruh hikmat Kristus, seluruh kebenaran Kristus, seluruh pengudusan Kristus dan penebusan kekal Kristus, jika saja engkau mau percaya kepada-Nya. Jika kau katakan engkau tidak dapat percaya, kau mengatakan apa yang benar; karena iman, dan juga setiap berkat lainnya, adalah anugerah pemberian Tuhan. Namun, tunggulah Tuhan, dan siapa tahu mungkin Ia akan berbelas kasihan kepadamu.
“Mengapa kita tidak pelihara lebih banyak pikiran-pikiran yang penuh kasih tentang Kristus? Apakah kau pikir Ia mau berbelas kasihan pada orang lain dan tidak kepadamu? Bukankah engkau orang berdosa? Bukankah Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa?
“Apabila kau katakan engkau adalah orang yang paling berdosa, aku menjawab itu tidak akan menjadi halangan untuk keselamatanmu. Memang tidak akan, jika engkau berpegang kepada Kristus dengan iman. Bacalah kitab-kitab Injil, dan lihatlah betapa baiknya Ia bersikap kepada murid-murid-Nya, yang telah meninggalkan dan menyangkal-Nya. ‘Pergilah, beritahu kepada saudara-saudara-Ku,’ kata-Nya. Ia tidak berkata, ‘Pergilah, beritahu para pengkhianat itu,’ tetapi, ‘Pergilah, beritahu saudara-saudara-Ku dan Petrus.’ Seolah-olah Ia berkata, Pergilah, beritahu saudara-saudara-Ku secara umum, dan Petrus secara khusus, bahwa Aku telah bangkit.
Oh, hiburlah hatinya yang bersedih dan lesu. Beritahu dia Aku telah berdamai dengannya. Minta dia berhenti menangis dengan begitu pahitnya. Karena meskipun dengan sumpah dan kutukan dia menyangkal-Ku tiga kali, namun Aku telah mati untuk dosa-dosanya; Aku telah bangkit lagi untuk pembenarannya: Aku dengan rela mengampuninya sepenuhnya.” Demikian lambat untuk murka dan amat baiknya Imam Agung kita yang penuh belas kasihan. Dan apakah kau pikir Ia berubah sifat dan melupakan orang-orang berdosa yang malang, sekarang setelah Ia ditinggikan di sisi kanan Allah? Tidak; Ia sama kemarin, hari ini, dan selamanya; dan duduk di sana hanya untuk bersyafaat bagi kita.
“Maka datanglah, kalian para pelacur; datanglah, kalian para pemungut cukai; datanglah, kalian para orang berdosa yang paling jahat, datanglah dan percayalah kepada Yesus Kristus. Meski seluruh dunia membenci dan membuangmu, namun Ia tidak akan menolak untuk menerimamu. Oh menakjubkan, oh kasih yang menjangkau tanpa batas! Bahkan engkau pun Ia tidak malu menyebutmu saudara-saudara-Nya. Bagaimanakah engkau akan luput bila kau abaikan tawaran keselamatan yang begitu mulia?
Apa yang akan diberikan oleh roh-roh terkutuk yang sekarang berada di penjara neraka jika dahulu Kristus ditawarkan kepada mereka dengan begitu cuma-cuma? Dan mengapa kita sekarang tidak memandang ke atas dalam siksaan? Apakah ada seseorang dari antara kerumunan besar ini berani mengatakan dia tidak layak menerima hukuman? Mengapa kita dibiarkan, sedangkan yang lainnya diambil oleh maut? Bukankah ini wujud dari anugerah Allah yang cuma-cuma, dan tanda kebaikan-Nya terhadap kita? Biarlah kebaikan Allah menuntun kita kepada pertobatan. Oh, biarlah ada sukacita di surga atas pertobatan beberapa dari antaramu!”
