Truth and Love News

Perpustakaan Tiranus

Avatar photo

Robert Tobing

Gambar diatas merupakan proses sebab akibat. Pertama, jika seorang bertindak tetapi tidak paham dengan baik alasan tindakannya maka hasilnya juga tidak menjadi jelas tujuan maupun manfaatnya. Kedua, jika saudara tidak paham membuat capcai tetapi ingin belajar dan untuk itu cari di youtube cara membuat capcai dan menemukannya tetapi saudara tidak tahu apakah resep ini pemenang di master chef sehingga rasa lezat terjamin, maka hasil tidak pasti lezat. Ketiga, saudara ingin belajar sesuatu tetapi tidak memahami proses atau tahap-tahap yang harus ditempuh atau tidak mau ikut proses sepenuhnya maka hasil yang diperoleh mungkin ada tetapi tidak sepenuhnya  atau tidak mencapai sasaran yang seharusnya. Ketiga hal diatas mungkin sudah, sedang dan akan terjadi terus dalam kehidupan saudara kecuali saudara mau melakukan perubahan. Apakah hal tersebut? MEMBACA DENGAN BENAR!

Tulisan ini memakai pokok pikiran satu bagian dari buku klasik  “How to Read a Book “ karangan  Mortimer. J Adler dan Charles Van.Doren (1972) dan kebenaran firman Tuhan mengenai buku istimewa bagi manusia, terutama orang Kristen yaitu  alkitab.

Tulisan ini dibagi empat bagian:

  1. Kondisi kita
  2. Apa, Mengapa dan Manfaat membaca
  • Membaca Benar,  Hidup Baru dan Pertumbuhan Iman
  • Tekad Baru

Kondisi Kita

Mortimer dalam pengantar bukunya mencatat beberapa hal kondisi di Amerika:

  • Tahun 1970 pemerintah US mencanangkan dekade Membaca dan mengalokasikan dana federal   untuk meningkatkan kecakapan membaca,  yang berhasil dengan upaya ini hanya sekolah dasar saja.
  • Pada tingkat SMA, beliau mengutip pendapat Prof James Mursell dari Columbia University (1939) bahwa rata-rata siswa yang mau masuk universitas “a poor and incompetent reader”. (Buku Mortimer ditulis tahun 1970 an)

Bagaimana dengan Indonesia?  Dari berbagai sumber sebagai berikut:

  • Hasil PISA ( Programme for International Student Assessment)pada tahun 2022  dalam  literasi membaca, menunjukkan peringkat Indonesia yang naik 5 posisi dibandingkan tahun 2018. Tetapi Indonesia masih menduduki 11 peringkat terbawah dari 81 Negara yang didata. Singapura juga menempati posisi teratas dengan skor 543. Disusul oleh Irlandia dan Jepang  di posisi kedua dan ketiga dengan skor  516. Indonesia mencapai skor 359.
  •  Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku.
  • Kabar menggembirakan,  Tingkat Kegemaran Membaca (TGM)  Masyarakat Indonesia tahun 2022 sebesar 63,90 (tinggi)  mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2021 sebesar 59,52 (sedang), tahun 2020 sebesar 55,74 (sedang), tahun 2019 sebesar 53.48 (sedang), tahun 2018 sebesar 52,92 (sedang), dan tahun 2017 sebesar 36,48 (rendah). Yogyakarta memiliki skor TGM tertinggi secara nasional, yakni 72,29 sedang DKI Jakarta dengan skor 68,71.
  •  60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan perkataan lain, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.
  • Data wearesocial ( 2017), orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Apa yang dibaca, didengar atau ditonton?
  • Hasil riset Semiocast, lebih dari 10 juta tweet setiap hari , warga Jakarta paling cerewet menuangkan segala bentuk unek-unek . Di posisi kedua peringkat dunia  di twitter ialah Tokyo. Menyusul  London, New York dan Sao Paulo.

Apa, Mengapa dan Manfaat Membaca

Membahas hal ini Mortimer mulai dengan definisi siapakah yang disebut pembaca. Definisi menjadi sangat penting karena banyak hal mempengaruhi seseorang membaca termasuk membaca artikel ini. Misalnya seseorang mau mengganti hp maka yang akan dibaca adalah sekedar informasi atau pengetahuan tentang hp tersebut dan setelah mendapat informasi yang diperlukan, barang dibeli dan tujuan membaca tercapai. Seorang mahasiswa akan menulis skripsi maka yang akan dibaca akan lebih banyak, cara membaca juga berbeda dibanding contoh sebelumnya  karena mungkin harus  menganalisa, meringkas, menggabung berbagai pemikiran  dan lain-lain. Contoh yang lain adalah seseorang yang sungguh-sungguh melaksanakan saat teduh setiap hari dengan membaca alkitab. Dalam konteks ini pembaca membaca karena adanya kebutuhan rohani  dan tahu buku yang dibaca berkualitas sangat tinggi dan sangat berbeda dibanding  buku-buku lain. Yaitu, Pengarangnya adalah Roh Kudus yang menuntun lebih kurang 40 orang dalam kurun waktu yang panjang menulis Alkitab . Yang lebih hebat lagi, Sang Pengarang, Roh Kudus berkuasa mengubah hati atau hidup pembaca. Dari ketiga contoh ini, 3 faktor mempengaruhi proses membaca yaitu sikap atau motivasi Pembaca, isi tulisan dan Penulis buku.

Siapakah Pembaca?

“People who are still accustomed, as almost every literate and intelligent person used to be, to gain a large share of their information about and their understanding of the world  from the written word” (terjemahan, orang yang masih mencari informasi dan pengertian tentang kehidupan melalui kata-kata tertulis, sebagaimana dilakukan oleh hampir semua orang terpelajar dan cerdik pandai zaman dahulu).

Perkembangan teknologi sangat luar biasa, sehingga mendengar atau menonton lebih menarik. Kalaupun membaca, media cetak elektronik menyediakan berita singkat (headline news). Penulis hampir setiap hari menggunakan transportasi publik menemukan hp dipergunakan untuk menonton bola, film, fashion, main games, dan musik. Buka atau kirim  berita. Sangat jarang atau hampir tidak ada yang baca buku tertulis atau baca di hp. Juga gambar melalui TV, berita visual berbagai peristiwa sangat menarik dilihat atau didengar selagi mengendarai mobil. Tetapi, pengetahuan bertambah tidak identik pengertian bertambah apalagi yang menyangkut kehidupan. Masa kini dalam banyak hal, kita kebanjiran informasi atau fakta sehingga kita harus melakukan seleksi supaya mendapat pemahaman. Perkembangan kini yaitu kecerdasan buatan nampaknya menyebabkan berpikir keras tidak diperlukan lagi. Membuat tugas membuat makalah atau bisnis dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Dampak negatifnya bisa membuat semakin malas berpikir.

Berikut ini beberapa hal yang disebut Mortimer sebagai the art of reading atau berbagai sikap dan aspek dalam membaca yang akan mempengaruhi hasil yang akan diperoleh dari kegiatan membaca:

  1. Active reading (Membaca Aktif)

Sikap dalam membaca dapat aktif atau pasif, semakin aktif semakin baik. Pembaca adalah  seperti seorang pemain dalam olahraga bisbol atau pebasket yang melakukan tindakan atau aktifitas melempar, menangkap atau memukul bola. “Lawan” yang melempar bola kepada pemain adalah penulis dan bola yang bersifat pasif adalah buku, materi yang dibaca. Menangkap berbagai bentuk lemparan adalah ketrampilan memahami sebaik mungkin tulisan. Komunikasi berhasil penuh jika pembaca dapat menangkap makna tulisan sepenuhnya dari si penulis yang juga bermacam-macam model (control atau wild writers).

Cara membuat dan bahan untuk membuat bola kertas lebih sederhana dari membuat bola basket atau bisbol, demikian juga buku atau tulisan ada yang sederhana ada yang kompleks atau rumit. Semakin kompleks tulisan, sikap aktif semakin diperlukan.

  • The Goals of Reading (Tujuan Membaca)

Tujuan atau sasaran membaca dipengaruhi oleh beberapa aspek/factor:

  1. Membaca untuk informasi atau pemahaman. Membaca koran, majalah, selebaran iklan yang seringkali bersifat informasi sehingga dengan mudah diserap. Tetapi buku yang ditulis oleh penulis dengan tingkat pengetahuannya jauh lebih tinggi dari pembaca menuntut upaya lebih banyak dan hasilnya adalah pemahaman. Semakin kecil kesenjangan pemahaman penulis dan pembaca maka komunikasi keduanya terjalin baik. Tujuan membaca adalah Pemahaman, yaitu mengetahui fakta, mengapa demikian, hubungan dan perbedaan antar fakta dan lain-lain.
  2. Membaca sebagai Pembelajaran.   Proses pembelajaran dikelas dapat bersifat instruksi yaitu adanya guru atau penemuan (discovery) yang juga dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan guru. Kalau kita membaca bukan dikelas maka tidak ada guru yang membantu. Jika kita bertanya kepada buku, maka kita sendiri yg menjawab. Jika kita terus bertanya dan belajar maka buku menjadi guru.
  3. Tingkatan Membaca. Ada empat tingkat, yaitu:

-Membaca dasar (elementary reading), pertanyaan yang diajukan pembaca adalah Apakah yang disampaikan oleh kalimat tersebut?

– Membaca Inspeksional (inspectional reading atau skimming systimatically). Tujuan yang dicapai adalah menemukan yang terbaik dari sebuah buku dalam waktu yang terbatas atau singkat. Pertanyaan yang diajukan pembaca: Apakah perihal buku ini? Bagaimana struktur buku ini?

– Membaca Analitis (Analitycal reading). Proses membaca menyeluruh,  lengkap, sangat aktif dan tanpa batas waktu (ini perbedaan membaca inspeksional) sehingga buku menjadi milik anda. Francis Bacon berujar, “Sejumlah buku hanya perlu dicicipi, yang lain perlu ditelan, sedikit lainnya harus dikunyah dan dicerna.”

– Membaca Sintopikal (Syntopical atau comparative reading). Buku yang dibaca banyak dan disandingkan topik antar buku. Walaupun sangat berat dan banyak energi yang dikeluarkan tetapi manfaatnya sangat besar, bukan saja mendapat pemahaman yang lebih kaya tetapi juga dapat membuahkan ide atau tulisan yang baru.

Membaca Benar,  Hidup Baru dan Pertumbuhan Iman

Kesimpulan sementara mengenai manfaat membaca adalah: Membaca dengan benar bisa menambah pengetahuan, mempertumbuhkan pikiran, mempertajam perasaan (baca novel, puisi), memperluas wawasan dan membuahkan ide baru. Dikatakan kesimpulan sementara karena ada manfaat yang lebih besar dan lebih penting lagi. Pada akhir bukunya, Mortimer membahas yang disebut Piramida Buku (The pyramids of books) :

  • Lebih dari 99% buku-buku yang ditulis dalam tradisi barat :”will not make sufficient demands on you for you to improve your skill in reading” Buku-buku ini tergolong untuk hiburan atau informasi sehingga membaca secara skimming sudah cukup.
  • Kelas kedua, 1/1000  atau 1/10.000 buku yang mengajar membaca dan cara hidup. Buku-buku ini memberikan signifikan “insights about subjects of enduring interest to human being” sehingga menuntut pembaca yang lebih serius karena diperlukan analisa. Dengan keterampilan membaca yang baik, buku ini sudah dikuasai dan  mungkin menjadi koleksi  dan referensi untuk pengingat atau mengajarkan kepada orang lain.
  • Kelas ketiga, buku ini jumlahnya kurang dari seratus (mudah-mudahan dalam kurun waktu 50 tahun sudah banyak bertambah), yaitu buku yang  tidak akan  anda dapat tuntaskan pemahamannya  bahkan dengan pembacaan yang terbaik. Buku ini merupakan karya agung yang lebih unggul dari pembaca, ada misteri-misteri  sehingga perlu dibaca ulang dan pembaca terus menemukan hal-hal baru. Buku ini terus membantu diri dan pikiran bertumbuh.

Mortimer memberikan 137 Penulis buku  dengan judul buku tertentu  dan urutan  penulis berdasarkan  tahun. Yang pertama  adalah Homer (abad ke 9 SM), buku kedua Perjanjian Lama (tanpa tahun), Plato (427-347), Yuklid (300 SM), Cicero, Perjanjian Baru (tanpa tahun), St Agustine (354-430), Marthin Luther, John Calvin (1509-1564), Rene Decartes (1596-1650), Immanuel Kant (1724-1804), Charles Darwin (1809-1882), Mark Twain (1835-1910), A. Einstein (1875-1955)… buku terakhir Alexander I Solzhenitsyn (1918). Daftar ini hanya mencakup penulis-penulis barat (catatan, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak ditulis oleh penulis dari barat)

Dari tabel buku  kelas tiga ini, Mortimer memasukkan  Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Dengan perkataan lain beliau mengakui  Alkitab sebagai buku yang khusus  yang  harus dibaca oleh setiap orang, tetapi beliau mensejajarkan alkitab dengan buku-buku lainnya. Alkitab tidak sejajar atau sebanding dengan buku-buku dari penulis manapun, baik  yang sudah ada maupun yang  akan terbit. Karena alkitab adalah Firman Allah. Allah berbicara kepada manusia melalui  tulisan. Para penulis alkitab dipimpin Roh Kudus untuk memastikan penulisan dengan kata-kata manusia mengungkapkan kehendak Allah (2Pet 1:21). Dan kehendak Allah adalah mengutus  anakNya yang Tunggal, Tuhan Yesus, datang kedunia, mati disalib untuk menebus dosa manusia  sehingga barangsiapa yang percaya kepadaNya menjadi manusia baru dan memperoleh hidup kekal (Yoh 3:16, Ef 4:24). Kabar baik ini hanya ada di alkitab dan  tidak ada dalam semua buku sekuler padahal berita ini sangat diperlukan oleh semua umat manusia.  Kisah alkitab mengenai perubahan hidup yang terjadi dengan sida-sida  dari Etiopia sangat menarik karena dalam perjalanannya, dia membaca kitab Yesayapasal 53 tentang  Yesus yang akan datang dan menderita, dan kitab Yesaya  ditulis 700 tahun sebelum Kristus datang.  Pembacaan ayat-ayat dan penjelasan  oleh Filipus (KPR 8)  membawa perubahan hidupnya menjadi orang Kristen.  Ini membuktikan alkitab adalah firman Allah yang hidup.

2 Timotius 3:16,17 merupakan  ayat yang sangat istimewa karena menjelaskan alkitab adalah Firman Allah dan the power of God’s word . Kedua hal ini merupakan keunikan alkitab dan tidak ada dalam semua buku. Ada 4 kuasa dan manfaat  firman Allah, yaitu: Mengajar,  Menyatakan Kesalahan,  Memperbaiki Kelakuan dan  Mendidik orang dalam Kebenaran . Dan ayat 17 mengatakan:  “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah (the servant of God) diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (NIV, thoroughly equipped for every good work)”. Wow, luar biasa. Dunia mencari-cari dan mencoba mendefinisikan kebenaran , alkitab memberitahu bahwa sang sumber kebenaran dan sumber hidup yang adalah Yesus Kristus, ada dicatat dalam alkitab: nubuat maksud kedatanganNya, kelahiranNya,apa yang dikerjakanNya, kematianNya, kebangkitanNya dan rencana kedatanganNya yang kedua kali. Yesus sendiri berkata: Akulah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).

Berikut ayat yang juga begitu besar,  Yohanes menulis:  “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.  Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?” (1 Yohanes 5:4-5).

Matthew Henry mencatat 6 makna iman dari ayat diatas:

  1. Didalam dan melalui iman kita melekat kepada Kristus.
  2. Iman bekerja di dalam dan melalui kasih kepada Allah dan Kristus
  3. Iman menguduskan hati dan memurnikan dari nafsu-nafsu kedagingan
  4. Iman menerima dan mengambil kekuatan Anak Allah.
  5. Iman kepada janji bahwa Roh Allah yang lebih besar dari roh dunia (1 Yoh 4:4) berdiam dalam hati.
  6. Iman melihat dekatnya suatu dunia yg tak terlihat dan takterbandingi dengan dunia ini.

Rasul Yohanes menyimpulan orang Kristen yang sungguh-sungguh adalah penakluk dunia.

FirmanNya dalam bentuk tulisan diberikan kepada manusia dengan single purpose supaya dibaca, Musa menasehatkan raja-raja membaca hukum Tuhan seumur hidupnya (Ul 17:9), Yesuspun yang adalah firman membaca kitab suci sejak kanak-kanak. Membaca dan Mengajar.

Beberapa contoh diatas membuktikan bahwa alkitab bukan buku seperti buku-buku apapun yang ada didunia ini sehingga harus menjadi prioritas untuk dibaca dengan benar.

Tekad Baru

Apa yang saudara baca hari lepas hari? Bagaimana saudara membaca buku selama ini? Tingkat kualitas buku apa yang  dibaca?

 Rasul Paulus bukan hanya menasehatkan Timotius untuk bertekun dalam membaca Kitab-kitab suci  (1 Tim. 4:13), tetapi dia juga cinta membaca apapun keadaan dirinya (2Tim 4:13). Yang kukehendaki adalah mengenal Dia (Fil 3:10). Itu sebabnya, Tuhan memakai  Paulus menulis hampir separuh Perjanjian Baru. Paulus Membaca, Mengajar dan Menulis.

Tuhan telah menganugerahkan Tiranus, Perpustakaan GRII Kebon Jeruk, dan saat ini ada 2046 judul buku berkualitas. Jangan sia-siakan anugerah Tuhan, segera daftarkan diri, pinjam dan mulai membaca supaya iman terus bertumbuh atau dan membacakan buku bagi anak-anak masa kini yang tidak suka membaca. Pdt Stephen Tong pernah mengutip Lao Tzu, Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. LET’S START MEMBACA! Hingga tingkat sintopikal. Teladan gereja untuk  membaca dengan benar  diperlukan masyarakat luas.