Lagu

Tuhan Yesus, Teladan Rendah Hati

Avatar photo

Pdt. Antonius Steven Un

Sebuah lagu lama yang ditulis saat saya masih di GRII Malang. Walaupun lagu ini sudah melalui revisi yang cukup banyak namun belum dipublikasikan.

Di awal, lagu ini hanya terdiri atas satu bait saja dan kata-katanya relatif sederhana. Setelah digumulkan baik nada maupun kata-katanya, kemudian saya berpikir bahwa teladan Tuhan Yesus di dalam kerendahan hati ada banyak aspek dan lagu ini menjadi panjang, sampai tujuh bait yang kemudian dikompres menjadi empat bait.

Lagu ini bercerita tentang kerendahan hati Tuhan Yesus yang diceritakan oleh Alkitab. Bait pertama, Tuhan Yesus disembah oleh para malaikat tetapi Dia mau lahir di palungan yg kotor, Dia mau datang ke bumi, Dia mau yg hina dengan rela, sekalipun Dia begitu mulia. Bait kedua, Dia adalah pencipta alam semesta tetapi Dia rela datang sebagai hamba, Dia tidak memanfaatkan hakNya. Ini adalah kata-kata yang jarang sekali diperhatikan di dalam lagu atau pemikiran tentang Kristus.

Saya mengambil dari Filipi 2 yang dalam terjemahan bahasa Inggris menggunakan istilah Tuhan Yesus tidak mengeksploitasi statusnya sebagai Allah, yang saya terjemahkan sebagai tidak memanfaatkan hakNya. Sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat tetapi di dalam dunia Dia tidak memanfaatkan itu. Kalau kita lihat di dalam masyarakat, orang cenderung memanfaatkan keluarga yang punya jabatan, orang yang bisa dimanfaatkan untuk keuntungan dia. Tetapi Tuhan Yesus mempunyai jabatan, hak dan otoritas tetapi Dia tidak manfaatkan. Dia rela datang sebagai hamba meskipun Dia adalah Allah yang berdaulat.

Bait ketiga, Tuhan Yesus adalah Raja atas segalanya tetapi Dia tidak mengharapkan dilayani. Markus 10:45, Ia datang untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya menjadi tebusan. Padahal Dia adalah Raja di atas segala raja. Di mana-mana, orang yang menduduki jabatan yang tinggi selalu mengharapkan dilayani karena mereka punya ajudan, punya staf dan sebagainya. Tetapi Tuhan Yesus dengan rendah hati memberikan kepada kita teladan bahwa Ia tidak menginginkan untuk dilayani, Ia justru datang untuk melayani.

Bait keempat, mendadak menjadi terbalik. Bait 1, 2, 3 dimulai dengan kemuliaan, semua dimulai dengan kemuliaan. Kristus amat mulia, Dia Pencipta alam semesta, Raja atas segalanya. Sampai bait keempat dimulai dengan kehinaan, menceritakan tentang salib, merendahkan diri sampai mati di kayu salib tapi diakhiri dengan bangkit, menang atas maut dan patut selalu diagungkan.

Ada kesengajaan pembalikan pada bait keempat. Pada baris kedua, tertulis Kristus mau yang hina, tidak memanfaatkan hakNya, Dia datang untuk melayani tetapi kemudian dibalik, Dia bangkit dan menang atas maut.

Di bagian reffrein, awalnya saya mau menulis satu doa kepada Tuhan Yesus tetapi Alkitab mencatat jarang ada tradisi doa kepada Tuhan Yesus. Hanya Stefanus dan Yohanes yang pernah dicatat berdoa kepada Tuhan Yesus. Itu sebabnya saya menggeser kata-kata ini bukan menjadi sebuah doa tetapi sebuah harapan. Tuhan bimbinglah kami, kiranya Tuhan Yesus yang menjadi teladan agung itu membimbing kita untuk rendah hati, untuk melayani. Dia adalah teladan yang agung tetapi Dia juga adalah Tuhan. Itu sebabnya kita mengharapkan Tuhan yang adalah juru selamat kita bisa membimbing kita untuk rendah hati dan melayani.