GRII Kebon Jeruk
“Tuhan, ajarlah kami berdoa…”, demikianlah kalimat permohonan yang dituturkan oleh salah seorang murid pada suatu hari setelah mereka menyaksikan Tuhan Yesus berdoa (Lukas 11:1). Sebagai tanggapan atas permohonan itu, Tuhan Yesus mengajarkan sebuah doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami —sebuah doa yang bukan saja untuk para murid saat itu, tetapi juga untuk kita saat ini. Sebuah doa yang menjawab pertanyaan “bagaimana” seharusnya kita berdoa dan “kapan” kita harus berdoa. Sebuah doa yang mengajarkan kita untuk menaikkan permohonan yang selaras dengan kehendak Tuhan, di dalam situasi dan keadaan apapun.
Kehidupan yang kita jalani setiap hari dengan segala dinamikanya, tak jarang menempatkan kita pada keadaan yang terlalu sibuk dan sebagian besar kekuatan kita terkuras di dalamnya. Rentetan kesibukan itu kerap merampas kesempatan kita dalam mengambil waktu tenang dan hening untuk berlutut, untuk berdoa, untuk meratap, untuk berseru kepada Tuhan… atau, bahkan untuk memohon “Tuhan, ajarlah kami berdoa…”. Doa, kata Charles Ringma, adalah panggilan untuk lebih akrab dengan Tuhan semesta alam, Bapa kita dalam Yesus Kristus. Doa adalah diperbaharui oleh kehadiran-Nya yang penuh kasih.
Di dalam anugerah dan belas kasih Tuhan, kita pun menyaksikan para hamba Tuhan di GRII Kebon Jeruk selalu menekankan kepada kita untuk menghayati kehidupan berdoa, baik secara personal maupun secara komunal. Maka, salah satu kegiatan berdoa yang diadakan secara teratur dan berulang di gereja kita yaitu Doa Berlutut Bersama 4 Jam yang dipimpin oleh Pdt. Antonius Un. Kegiatan berdoa yang dijadwalkan satu kali dalam enam bulan ini telah dilaksanakan untuk yang pertama di tahun 2025 ini pada Sabtu, 11 Januari yang lalu di Aula Gloria Lt.3. Doa berlutut bersama ini diikuti oleh sekitar 112 orang dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga lanjut usia. Bahkan, ada beberapa orang yang untuk pertama kalinya mengikuti doa berlutut bersama 4 jam di GRII Kebon Jeruk. Oleh karena kemurahan Tuhan atas gereja-Nya, kita patut bersyukur!
Selain menyanyikan lagu pujian, doa berlutut bersama ini juga diselingi dengan pembacaan ayat-ayat firman Tuhan yang dapat menuntun kita untuk menyelaraskan isi hati kita sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan untuk kita doakan. Satu sesi di pertengahan doa berlutut ini, Pdt. Antonius Un juga mengajak setiap jemaat untuk mendoakan beberapa topik doa khusus secara berkelompok, yang terdiri dari 3-5 orang. Melalui kesempatan itu, beranjak dari pengalaman dan kesaksian masing-masing anggota kelompok, setiap orang boleh saling terbuka, saling menguatkan, dan saling mendoakan.

Selayaknya yang diyakini, bahwa waktu-waktu yang dihabiskan bersama Allah tidaklah sia-sia. Maka, kita pun berharap untuk salah satu berkat Tuhan di dalam gereja ini yaitu Doa Berlutut Bersama 4 Jam di waktu mendatang (Juli 2025) ada lebih banyak hati yang mau digerakkan— ada lebih banyak jemaat yang mau hadir dan mengikutinya, serta ada lebih banyak dari kita yang mau mengajak satu sama lain sebagai sesama anggota tubuh Kristus untuk berdoa bersama. Anugerah Tuhan melalui doa berlutut bersama ini, menjadi ruang untuk kita mengekspresikan pengharapan yang menyadarkan kita bahwa bukan saja lutut yang perlu ditekuk, tetapi hati kita pun perlu siap untuk tunduk dan dibentuk. Doa berlutut bersama menjadi sebuah ruang di mana Tuhan kembali menguatkan roh kita agar kita dapat terus mengerjakan peran dan panggilan kita di dunia ini, sebagai komunitas kebenaran dan kasih.
“Tuhan, ajarlah kami berdoa…”, kiranya terus bergema dalam denyut keseharian kita.

