“Sheperding the heart means helping them to understand themselves, God’s works, the ways of God, how sin works in the human heart, and how the Gospel comes to them at the most profound levels of human need”, demikian tuturan indah dari Tedd Tripp yang dikutip Pdt. Antonius Un dalam pengantar pada Pembinaan Penatalayan yang diadakan pada Rabu, 4 September 2024. Pada kesempatan ini, tema “Pelayan yang Mengasihani Diri”, yang diambil dari seri khotbah Pdt. Stephen Tong dalam Persekutuan Doa Momentum (PDM) yang telah dibukukan, juga dijadikan sebagai bahan diskusi untuk direfleksikan bersama-sama.
Ibarat terapi, kata Pdt. Antonius Un, melalui kehadiran rekan sepelayanan serta adanya tuntunan dan renungan dari hamba Tuhan, pembinaan ini sangat penting untuk menolong kita memeriksa kembali hati kita. Sebab, sangat berbahaya jika di balik pelayanan yang kita kerjakan terus menerus, ternyata kita kehilangan sikap hati dan pikiran yang benar. Sikap hati seorang pelayan sangat penting, seperti yang pernah Allah sampaikan kepada Samuel, “…..bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7)
Sebagai pelayan, kita harus bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya memiliki hati seorang hamba?” atau “Apakah saya sedang merasa sebagai orang yang sangat dibutuhkan di dalam gereja?”.
Sekitar 135 orang hadir mengikuti pembinaan penatalayan ini dan dibagi menjadi 21 kelompok diskusi. Dengan menggunakan buku Pelayan yang Mengasihani Diri, dipandu oleh pemimpin kelompok, setiap orang diajak untuk saling berbagi pandangan dan pengalamannya berdasarkan tiga pertanyaan yang telah dipersiapkan.
- Dalam pelariannya, Elia sedang menipu diri. Ia merasa sedang giat bagi Tuhan, padahal sedang tidak mengerjakan apa-apa. Bagikan dalam hal apa kita juga rentan jatuh dalam penipuan diri yang demikian?
- Elia jatuh dalam mengasihani diri dalam pelayanan. Ia merasa diri penting bahkan seorang diri (tiada duanya) dalam pelayanan kepada Tuhan. Kita pasti tidak akan berani berkata dengan mulut kita bahwa diri kita tiada duanya. Dalam hal apakah kita diam-diam di dalam hati membanggakan diri kita sendiri, merasa begitu penting dalam pelayanan? Bagikan.
- Tuhan menjawab Elia yang mengasihani diri bahwa Tuhan masih menyisakan 7000 orang yang tidak mencium Baal. Bagaimanakah kesadaran melayani bersama-sama komunitas umat Tuhan yag lain menjadi obat bagi penyakit pengagungan diri dan elevasi diri yang tidak sehat dalam melayani (baik melayani pemberitaan Firman maupun yang tidak)?
Setelah diskusi yang berlangsung selama 40 menit, setiap orang kembali berkumpul untuk mendengarkan refleksi dan kesimpulan yang disampaikan oleh Pdt. Antonius Un. Melalui khotbah di buku “Pelayan yang Mengasihani Diri” ini, Pdt. Antonius Un juga memberi penekanan bahwa seringkali tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Seperti Nabi Elia, setelah melarikan diri, Tuhan berfirman, “Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau” (1 Raja-raja 19:16). Dalam Alkitab, kita juga melihat contoh seperti Nuh, setelah mabuk dan telanjang, kisahnya seakan berhenti dan selesai. Di Perjanjian Baru pun demikian, setelah Petrus menyangkal Tuhan Yesus, sekalipun dipulihkan, tetapi kita melihat pelayanannya seakan tersisih oleh kehadiran dan pelayanan Paulus. Ini mengingatkan kita bahwa ada pengalaman yang tidak dapat diulang atau tidak akan pernah sama lagi setelah kita melakukan tindakan yang kurang berkenan kepada Tuhan. Adalah sesuatu yang keliru jika kita beranggapan bahwa kesempatan untuk melayani akan selalu ada, karena Tuhan belum tentu memberikan kesempatan yang sama ke depan. Pdt. Stephen Tong, menegaskan dalam buku ini bahwa setiap kesempatan untuk melayani adalah suatu penghargaan yang sangat tinggi yang Tuhan berikan kepada kita.
Selain sikap hati, Pdt. Antonius Un juga mengingatkan bahwa kehadiran Tuhan sangat penting dalam pelayanan kita. Mendoakan pelayanan bukan hanya tugas hamba Tuhan dan liturgis, tetapi merupakan tanggung jawab setiap kita yang melayani. Jika kita sungguh-sungguh berdoa untuk pelayanan kita, dengan penyerahan diri yang dipimpin oleh Roh Kudus, Tuhan dapat memakai pelayanan tersebut untuk memberi dampak yang kekal bagi orang lain. Dalam pelayanan, tak jarang kita berhadapan dengan kekhawatiran dan kesepian karena kita ingin menangani segala sesuatu dengan kekuatan sendiri. Melalui pengalaman Nabi Elia, kita belajar bahwa kita tidak akan sanggup berjuang sendiri, kita membutuhkan orang lain, dan terutama perlu berjalan bersama Tuhan. Kegagalan dalam pelayanan dapat disebabkan oleh hati yang mencari untung-rugi, mementingkan agenda pribadi, hasrat untuk mencari nama serta hati yang merasa paling berkorban. Penyerahan diri yang sungguh-sungguh akan menghasilkan pelayanan yang powerful.
Sebagai penutup pembinaan ini, Pdt. Antonius Un mengajukan pertanyaan reflektif:
Apakah kita bersedia memiliki hati penuh penyerahan diri, hati yang bersih, berdoa berlutut serta memiliki persiapan yang sungguh-sungguh sebelum melayani?
Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjaga setiap hati kita sehingga dapat melayani dan pelayanan kita berbuah banyak.
Selamat melayani, demi kemuliaan Allah.






